Excited banget, abis
nonton teater. Kemarin itu adalah pertama kali nonton teater berbayar, pertama
kali ke Taman Ismail Marzuki, dan pertama kali nya keluyuran di daerah Jakarta
sampai jam 12 malam, haha. Yap, nonton teater yang dipentaskan oleh Teater
Koma, berjudul Demonstran. Terima kasih kepada temanku, yang udah mesenin
tiket, sehingga bisa dapet diskon 50% dan dapat tempat duduk yang strategis.
Cerita nya, aku sih bisa nebak.
Nyindir pemerintah, terutama DPR.
Ada mantan demonstran yang dulu
jadi pemimpin demo waktu kuliah, sudah tidak mau lagi diajak turun ke jalan.
Dia sudah jadi pengusaha, yang punya hubungan dekat dengan pejabat. Bahkan
mantan demonstran itu ngebayar wartawan, abis mereka meliput dirinya. Pokoknya
idealismenya udah ilang. Nah, teman-teman seperjuangannya dulu menemui dia dan
ngingetin lagi tentang masa-masa kuliah dan ngajak unjuk rasa lagi. Tapi dia
nya beralasan ini itu. Dia bertanya ke salah satu temennya, sebenarnya kalau
mereka unjuk rasa, siapa sih yang mereka perjuangkan? Rakyat? Rakyat yang mana?
Pejabat, pengusaha juga rakyat kan. Rakyat itu siapa? Bahkan barangkali, rakyat
tidak meminta untuk diperjuangkan seperti itu. Dan bahkan rakyat tidak mengerti
apa yang sebenarnya mereka perjuangkan. Hayo, ini pengingat juga bagi yang suka
ikut aksi. Hehe. Think again. Lalu di teater itu, nampilin segerombol orang
miskin, segerombol pekerja yang hanya ‘tahu’ nya kerja seperti mesin, dan para
pekerja seks dan waria. Siapa rakyat sejati yang mereka perjuangkan?
Mungkin pementasan teater ini,
karena mau pemilu ya. Sedikit banyak juga nyindir politikus dan partai-partai.
Para caleg-caleg atau yang ingin sekali mempunyai kekuasaan, waktu kampanye
juga seringkali ga jelas, bikin konser ga jelas, pasang poster-poster, dan
menjanjikan omong kosong. Blubard blubard blaburd blaburd, Begitulah istilah
nya di teater itu. “Mereka bisanya cuma blubard blaburd”. Rakyat ga ngerti
maksudnya. Dan waktu istilah itu dilafalkan oleh pemain-pemainnya, aku ga
ngerti maksudnya apa blubard blubard. Sempet mikir lama, haha. Akhirnya ngerti
juga, bahwa itu cuma istilah untuk menggambarkan omongan yang ga jelas.
Susah kalau cerita teater
diceritain lewat kata-kata. Ceritanya sebenarnya biasa aja, mudah ketebak
bahkan. Tapi acting peran-perannya, music, syair lagu-lagunya, penjiwaan setiap
peran baik actor maupun figuran, itu begitu hidup. Dan itu lah yang ga bisa
didapatkan kalau di certain aja. Ayo nonton :p
Dan, suka deh sama kata-kata nya
teater koma “Kami tidak akan pernah titik, kami akan selalu KOMA”. Artinya
perjuangan mereka dengan teater itu akan ada selama dunia ini masih ada. Tidak
akan pernah titik. Ah bagus sekali :)
Orang-orang yang bekerja di
industry seni seperti teater itu menurutku keren. Mereka membuat sesuatu yang
mereka sukai, bermanfaat untuk banyak orang. Dan itu mungkin yang bisa kita
contoh, bekerja dengan hati, berkarya, untuk manfaat yang lebih besar. Dan tentu saja, dengan
kolaborasi. Tidak bisa sendiri. Coba hal ini diterapkan di semua jenis profesi,
pekerjaan, kalau dari hati, melakukan yang disukai, and make it live.
Jadi ingat seminarnya
StudentsxCEOs yang pembicaranya ada Pandji Pragiwaksono. Beliau menyebut
dirinya Indipreneur. Membuat sendiri karyanya, dan mejualnya sendiri juga. Dia
ingin, setidaknya menjadi inspirasi bagi orang lain, bahwa kita harus hidup
dengan karya kita sendiri, hal yang kita sukai. Karya itu bukan cuma karya seni
atau sejenisnya, tapi hasil kerja kita, jadi apapun, kerja kantoran jadi
pegawai di perusahaan, bank dan sebagainya, juga bisa disebut karya. Kalau niat
kita baik, selain kerja juga ingin ngasih manfaat dan kontribusi buat
masyarakat luas, memberikan usaha terbaik, pelayanan terbaik untuk kepuasan
orang lain, itu juga karya yang keren menurutku.
Keren kan jadinya, kalau setiap
hal yang kita kerjakan memberikan kepuasan batin untuk diri kita sendiri, dan
juga buat orang lain. Memang banyak kerikil menghadang si, faktor eksternal dan
sebagainya. Ya itulah tantangannya, hadapi saja, tantangan itu tidak lebih
besar dari Yang Maha Besar kan? :)
Komentar
Posting Komentar