Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Peace within Humility

I almost can't express how happy I am, found some public figures who are very humble, whom I admire (through virtual world lol), and being surrounded by humble friends, whom I talk with almost everyday. The first person whom I admire virtually for many years, the one and only Nicholas Saputra. I think my followers both in Twitter and Instagram are already bored with my publication of himself and what he is currently doing lol. He is truly admirable since he became a volunteer for NGO in Aceh when tsunami occurred in 2005. He did't want to publish what he had done there. And only few people know that he is part of steering commite of an international foundation located in Aceh to protect elephants. He don't want to be acknowledged as an ambassador or activist, but as a volunteer. His humility makes me admire him even more. I am truly inspired by how he portrayed himself in social media. Dia hanya menampilkan apa saja yang dia lihat melalui akun instagram dan bukan apa saja p...

Sok Sok Catatan Najwa

Ketika popularitas mengalahkan kualitas Yang benar dan salah menjadi bias Memahami kualitas dan kebenaran butuh kerja keras Ketika makna direduksi Semua menuju satu deduksi Yang ternyata belum tentu sehati Ikut-ikutan menjadi tradisi Ketika semua ingin menang sendiri Banyak orang mendadak jadi tak punya hati Menjatuhkan orang lain semudah mengepalkan jari Dihempaskan dan dipaksa pergi Ketika ego dijadikan tuan tanpa sadar Pikiran kacau seolah jadi benar Subjektifitas dijadikan patokan nalar Beda perspektif menjadi alasan untuk memojokkan dengan kasar

Oldish and Simple Love - Only Yesterday, Film Ghibli 1991

... "Rainy, cloudy, sunny days. Which one do you like the most?" (tanya si laki-laki) "Cloudy" "Me too." Sumber : https://www.theverge.com/2016/2/24/11108228/only-yesterday-movie-review-studio-ghibli Sepenggal percakapan sederhana antara seorang anak SD laki-laki dan teman perempuan di sekolahnya, yang terjadi ketika dia mengejar si perempuan yang pulang sekolah. Si perempuan pulang dengan malu-malu karena dicie-cie-in sama teman-temannya. Si laki-laki mengejar, dan akhirnya mereka bertemu di persimpangan jalan. Setelah percakapan sebentar itu berakhir, keduanya terpisah dan masing-masing membawa kupu-kupu di dalam perutnya. Adegan manis yang sederhana itu ada di dalam film animasi Jepang jaman dulu, Only Yesterday. Adegan itu mengingatkanku dengan cinta monyet waktu SMA. Kagum kakak kelas waktu aku masih baru masuk. Dulu girang sekali ketika tiba-tiba kami satu bus waktu berangkat sekolah dan dia duduk di sebelahku. Setelah turun dari bus kami ...

Parental Lessons in Avatar The Last Airbender

Jadi kemarin memghabiskan akhir tahun dengan nonton ulang serial yang dulu sangat kusukai. Ternyata beda banget rasanya dibandingkan dulu pas masih SMP nonton. Kalau dulu cuma bisa lihat cerita, tokoh, humor, aksi mengalahkan musuh, sekarang jadi notice dengan hal-hal baru bahkan hal kecil yang sebelumnya gak disadari. Hal yang paling kental menurutku di serial ini adalah peran orang tua dalam mebentuk karakter anak dan remaja, apalagi ketika remaja di mana dia sedang mencari jati diri, sering bingung, butuh panduan, butuh teman, dan bagaimana mereka menghadapi masalah. Yap, usia para pemeran utamanya itu kisaran 12-16 tahun. Dan ini juga yang menjadikan serial ini menarik dan cocok untuk semua kalangan. 1. Karakter Uncle Iroh dan Pengaruhnya pada Zuko Karakter Zuko di season 1 dan 2 yang cenderung keras kepala dan mudah marah berimbang dengan karakter Uncle Iroh yang sabarnya luar biasa. Zuko sudah dianggap anaknya sendiri karena anak kandungnya telah meninggal ketika...