Langsung ke konten utama

Peace within Humility

I almost can't express how happy I am, found some public figures who are very humble, whom I admire (through virtual world lol), and being surrounded by humble friends, whom I talk with almost everyday.

The first person whom I admire virtually for many years, the one and only Nicholas Saputra. I think my followers both in Twitter and Instagram are already bored with my publication of himself and what he is currently doing lol. He is truly admirable since he became a volunteer for NGO in Aceh when tsunami occurred in 2005. He did't want to publish what he had done there. And only few people know that he is part of steering commite of an international foundation located in Aceh to protect elephants. He don't want to be acknowledged as an ambassador or activist, but as a volunteer. His humility makes me admire him even more. I am truly inspired by how he portrayed himself in social media. Dia hanya menampilkan apa saja yang dia lihat melalui akun instagram dan bukan apa saja pencapaian atau hal baik yang sudah dia lakukan, yang mana sudah banyak sekali sepertinya. He does not glorify anything he has done. I think he is fully aware that it is something that need to be done because he has the capacity and willingness to do it.

Kembali ke Bahasa Indonesia aja deh ya wkwk.

Idola terbaru pasca nonton film Ghibli, seorang sutradara film animasi yang menjadikan film-film Ghibli punya ciri atau legacy khusus (meski tidak semuanya), adalah Hayao Miyazaki. Dengan melihat film yang beliau sutradarai (dan juga animasi yang beliau gambar) aja kaya bisa merasakan kalau orangnya humble dan tulus. Nilai-nilai yang terkandung di film-filmnya sangat kuat, disampaikan  dengan cara yang sederhana, tidak ngotot dan tidak menggurui.
Niatnya membuat film juga bukan untuk mengikuti selera pasar kemudian mendapat untung.



Beliau membuat film hanya ingin agar anak-anak senang menontonnya dan bisa menceritakan kembali ke anak-anaknya kelak.
Melihat itu rasanya jadi ikut merasakan kedamaian beliau sebagai sutradara, yang tidak terbebani dengan tuntutan pasar tapi bisa stay true about himself and his ultimate purpose.
Ketulusan itu seperti tercermin di film-film yang dibuatnya : karakter-karakternya kuat, ceritanya menarik, dan pesan yang mendalam. Dan pas nonton rasanya sempurna banget.

Selain itu, ada orang-orang yang setiap hari ngobrol di group chat, tidak lain tidak bukan adalah teman-teman kuliah. Banyak yang baik banget, tulus, dan pinter di bidangnya masing-masing, ada yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Mereka tidak mengekspose dirinya secara berlebihan. Kalau melihat mereka, rasa-rasanya menjadi terhormat atau worth itu tidak diukur dari hal semacam pencapaian itu. Mereka nampak fokus dengan apa yang menurut mereka perlu dilakukan, yang membuat mereka puas secara batin dan merasa berdaya. Pujian di publik bukan sesuatu yang spesial atau menjadi tujuan akhir.

Orang-orang yang seperti kuceritakan di atas tanpa disadari memancarkan auranya tersendiri di mataku. Ketulusan dalam melakukan apapun yang mereka sukai menjadi hal yang sangat nyaman untuk disaksikan, membuat hati diselimuti kedamaian, bukan rasa iri/dengki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.