"Rainy, cloudy, sunny days. Which one do you like the most?" (tanya si laki-laki)
"Cloudy"
"Me too."
| Sumber : https://www.theverge.com/2016/2/24/11108228/only-yesterday-movie-review-studio-ghibli |
Sepenggal percakapan sederhana antara seorang anak SD laki-laki dan teman perempuan di sekolahnya, yang terjadi ketika dia mengejar si perempuan yang pulang sekolah. Si perempuan pulang dengan malu-malu karena dicie-cie-in sama teman-temannya. Si laki-laki mengejar, dan akhirnya mereka bertemu di persimpangan jalan.
Setelah percakapan sebentar itu berakhir, keduanya terpisah dan masing-masing membawa kupu-kupu di dalam perutnya. Adegan manis yang sederhana itu ada di dalam film animasi Jepang jaman dulu, Only Yesterday.
Adegan itu mengingatkanku dengan cinta monyet waktu SMA. Kagum kakak kelas waktu aku masih baru masuk. Dulu girang sekali ketika tiba-tiba kami satu bus waktu berangkat sekolah dan dia duduk di sebelahku. Setelah turun dari bus kami sempat mengobrol sebentar sambil jalan menuju sekolah. Tapi semuanya berakhir ketika dia lulus dan kuliah di luar kota. Setelahnya akupun juga lulus dan kuliah di UI.
Setelah nonton itu, menurutku cinta monyet jaman dulu itu tulus dan pure banget, pemicunya sederhana, malah kadang gak tau apa. Plus gak drama, tapi berakhir begitu saja hahaha #tjurhat
Kisah romansa si perempuan yang jadi tokoh utama dan teman SD nya tidak berlanjut sayangnya. Setelah bekerja di Tokyo, si tokoh utama kadang pergi ke desa untuk ikut bertani dengan saudara temannya, untuk melepas penat hidup di kota. Secara tidak sengaja, dia bertemu dengan sepupu temannya dan dijodoh-jodohkan oleh orang tua di sana. Sempat denial dengan perasaan nyamannya hidup di desa dan juga ketika berada di dekat sepupu temannya, dia pun akhirnya bisa memahami apa yang benar-benar diinginkannya.
Film ini gak pake plot macam-macam tapi ngalir begitu saja, kaya lihat masalah sehari-hari yang dituangkan ke dalam animasi. Animasi ini juga bikin flashback dengan hal-hal yang terjadi ketika SD-SMP: dimarahin orang tua, susah mengerti mata pelajaran, dibanding-bandingkan dengan saudara, pertama kali menstruasi, sampai dijahilin anak-anak laki-laki. Plus kita akan disuguhi pemandangan desa dan kegiatan orang biasa di desa. Cocok buat kalian yang suka penggambaran desa sebagai tempat menemukan kedamaian, bukan digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan sumber ghibahan dan keterbelakangan.
Komentar
Posting Komentar