Jadi kemarin memghabiskan akhir tahun dengan nonton ulang serial yang dulu sangat kusukai. Ternyata beda banget rasanya dibandingkan dulu pas masih SMP nonton. Kalau dulu cuma bisa lihat cerita, tokoh, humor, aksi mengalahkan musuh, sekarang jadi notice dengan hal-hal baru bahkan hal kecil yang sebelumnya gak disadari.
Hal yang paling kental menurutku di serial ini adalah peran orang tua dalam mebentuk karakter anak dan remaja, apalagi ketika remaja di mana dia sedang mencari jati diri, sering bingung, butuh panduan, butuh teman, dan bagaimana mereka menghadapi masalah. Yap, usia para pemeran utamanya itu kisaran 12-16 tahun. Dan ini juga yang menjadikan serial ini menarik dan cocok untuk semua kalangan.
1. Karakter Uncle Iroh dan Pengaruhnya pada Zuko
Karakter Zuko di season 1 dan 2 yang cenderung keras kepala dan mudah marah berimbang dengan karakter Uncle Iroh yang sabarnya luar biasa. Zuko sudah dianggap anaknya sendiri karena anak kandungnya telah meninggal ketika ingin menaklukkan Ba Sing Se. Ketika Zuko marah-marah dan bahkan meremehkan, mencaci, Uncle Iroh tetap sabar dan kadang memilih diam, atau memberikan wejangan meskipun Zuko menjadi lebih marah. Dia juga terbiasa menghadapi situasi dengan santai dan tenang dibanding Zuko, yang memang masih remaja, lebih suka mendahulukan emosi dan ambisi. Di season 1 dan 2 dia sangat ambisius untuk mengejar Aang dan sangat menganggap itu sebagai satu-satunya cara mengembalikan kehormatannya di mata ayahnya, Fire Lord Ozai.
Mereka sempat dijebak oleh Azula, adik Zuko, untuk kembali ke kerajaan api dengan mengatakan bahwa ayahnya ingin dia kembali, padahal sebenarnya Uncle Iroh dan Zuko ingin dijadikan tahanan. Setelah kejadian itu mereka resmi menjadi buronan kerajaan api. Zuko sepertinya kaget dengan kondisi barunya yang harus hidup menggelandang, bahkan pamannya sempat mengemis. Dia menjadi frustasi dan tidak sabar dengan pamannya yang dianggapnya terlalu santai dan menikmati hidup. Di saat seperti itu, meskipun Zuko sering komplain dan marah-marah, Uncle Iroh tetap santai dan bahkan menanggapinya dengan candaan, tidak pernah marah sekalipun.
Uncle Iroh lah yang juga berperan dalam pergulatan batin Zuko untuk memilih sendiri nasibnya, yang akhirnya mengubah perilakunya, dan menyadari kesalahannya. Karakter Uncle Iroh yang persistent menghadapi Zuko, yang kesabarannya dan ketenangannya menghadapi masalah, berusaha mengarahkan Zuko untuk menentukan nasibnya dan untuk mengubah pandangan hidupnya bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan dari apapun yang diminta oleh orang lain termasuk orang tua, sangat menghidupkan serial ini.
Beberapa quote Uncle Iroh,
It is usually best to admit mistakes when they occur, and to seek to restore honor.
It's time for you to look inward and start asking yourself the big question: who are you and what do you want?
Dia sangat yakin dan percaya Zuko bisa menjadi orang baik meskipun kebanyakan orang tua dan penonton menganggap Zuko nakal, annoying dan mudah marah. Dia setia menemani dan selalu memaafkan Zuko meskipun dia sangaaaaaaat menyebalkan di awal haha.Pride is not the opposite of shame, but its source. True humility is the only antidote to shame.
Yang menarik lagi tentang Uncle Iroh ada di season Eaarth episode Ba Sing Se Tales ketika dia menenangkan anak kecil yang menangis di jalan, memaafkan orang miskin yang mencoba merampoknya dan ketika mengenang anaknya yang sudah meninggal.
2. Perbedaan Perlakuan Ayah Sokka dan Fire Lord Ozai terhadap anak-anak mereka
Perbedaan ini digambarkan dengan cukup gamblang ketika di akhir season 2 semua tim Avatar mendapat surat dari orang tuanya, termasuk Sokka yang akhirnya pergi menemui ayahnya.Di saat yang bersamaan Zuko memilih untuk berpihak ke ayahnya Fire Lord Ozai dan berpaling dari pamannya. Penggambaran itu menampilkan scene Sokka ketika bertemu dengan ayahnya dan bergantian dengan scene Zuko ketika menghadap ayahnya.
Sokka meminta maaf kepada ayahnya bahwa dia tidak bisa membuat ayahnya bangga karena tidak mempunyai kemampuan bending atau pun bertarung dan belum bisa membantu ayahnya. Dan ayahnya menjawab jika dia sudah merasa bangga pada anaknya tanpa syarat apapun.
Berbanding terbalik dengan Zuko, yang oleh ayahnya dipuji karena menurut cerita saudarinya Zuko berhasil mengalahkan Aang, padahal Aang dikalahkan Azula. Hal itu untuk mengembalikan kehormatan Zuko di mata ayahnya yang seringkali meremehkannya.
Kedua perlakuan yang berbeda itu bisa menjadi penyebab kepercayaan diri pada anak. Sokka menjadi lebih percaya diri dan merasa disayang sedangkan Zuko merasa dia membutuhkan pengakuan dari luar untuk merasa berharga. Bisa dilihat karakter Zuko yang sangat ambisius memburu Aang dan marah ketika dia gagal.
3. Belajar Cara Komunikasi Ibu-Anak dari Ursa
Scene Ursa, ibu Zuko di serial ini cukup sedikit namun berperan besar dalam menjelaskan latar belakang keluarga Zuko. Ursa adalah cucu Avatar Roku (avatar sebelum Aang) yang dijodohkan dengan Fire Lord Ozai. Sebenarnya dia sudah punya kekasih sebelum dijodohkan namun ya siapa yang berani menolak perjodohan dari keluarga raja api yang ganas?
Menjalani nasib yang tidak diinginkan sangat tidak mudah dan dia berhasil bertahan dan tetap bersikap baik. Kedekatannya dengan Zuko digambarkan di episode Zuko Alone, kalau tidak salah ada di season 2 ketika Zuko memutuskan berpisah dengan pamannya. Scene yang menurutku sederhana tapi sangat menarik. Dia dan Zuko sedang duduk di pinggir kolam dan memberi makan bebek kura-kura (duckturtle). Zuko menunjukkan kepada ibunya bagaimana Azula memberi makan bebek itu yaitu dengan melempar sebongkah besar makanan sehingga menenggelamkan bebek. Sesaat kemudian kaki Zuko digigit oleh ibunya bebek-bebek dan berteriak. Ibunya tidak menyalahkan Zuko dengan tipikal peringatan ibu-ibu pada umumnya seperti "Makanya jangan ganggu bebeknya" atau "Tuh kan kamu sih tadi melempar bebek sampai tenggelam, jadi ibunya marah" dan sejenisnya tetapi berkata yang kurang lebih
"Itulah yang akan terjadi jika mengganggu anak bebek. Ibu juga akan melakukan hal yang sama (seperti yang dilakukan ibunya bebek itu) jika kamu diganggu." lalu tertawa dan menggelitiki Zuko.
Caranya memberi peringatan kepada Zuko sangat halus dan tidak menyalahkan Zuko meskipun memang anaknya yang salah.
Hal yang sama Ursa lakukan kepada Zuko, ketika dia dan Azula diminta menunjukkan kemampuan firebendingnya di depan kakeknya yang waktu dia kecil menjadi raja api. Ketika kemampuan Zuko masih seuprit dibandingkan Azula, ibunya sangat tenang dalam menenangkan Zuko ketika dia merasa gagal.
I am failed.Kedekatan dengan ibu menurutku juga berperan membentuk karakter Zuko. Dia jadi punya rasa belas kasihan, tulus, dan sedikit melunak karena selama ini dingin dan galak. Perkembangan karakternya digambarkan secara halus melalui beberapa scene termasuk pada suatu scene dia berniat ingin merampok makanan karena lapar, lalu dia melihat bahwa makanan itu untuk seorang ibu hamil dan akhirnya misi dibatalkan.
No, I love watching you. That's who you are Zuko, someone who is keep fighting when you know it's hard.
Berbeda dengan Azula yang tidak dekat dengan ibunya, karakternya cenderung keras dan ingin menang sendiri. Dia lebih dekat dengan ayahnya karena mungkin sangat menguasai firebender sejak kecil dan punya ambisi yang sama dengan ayahnya, menguasai dunia.
4. Sisi Keibuan Katara
Katara juga menunjukkan karakter yang kuat dengan sisi keibuannya; ingin mengatur dengan tujuan semuanya akan baik-baik saja, mengayomi, memberi nasihat yang menenangkan, percaya bahwa setiap orang punya kemampuan, serta menjadi pendengar yang sangat baik ketika Aang, Toph, dan Zuko tidak percaya dengan diri mereka sendiri.
Mungkin saja kerinduan akan ibunya yang waktu dia kecil ditangkap oleh musuh menjadikan dia juga ingin seperti seorang ibu, melindungi keluarganya.
5. Karakter Toph yang Tidak Suka Terlalu Diatur
Ketika tim Aang menemukan Toph, sempat terjadi pertengkaran hebat antara Toph dan Katara. Katara ingin Toph ingin membangun tenda dan menyiapkan keperluan istirahat, namun Top menolaknya karena dia tidak butuh tenda dan bisa membuat tendanya sendiri, dia juga membawa barang bawannya sendiri. Intinya Katara berharap Toph bisa menjadi tim yang berbagi beban perjalanan tapi Toph menolak. Karakter itu mungkin juga lahir karena orang tuanya kaya dan sangat over protective terhadap Toph. Toph yang buta sehingga dianggap lemah oleh orang tuanya juga berkontribusi terhadap karakternya yang ingin mandiri dan tidak mau terlalu diatur.
Apalagi waktu Toph dan Sokka melakukan judi di pasar untuk mendapat banyak uang untuk perbekalan. Katara sangat marah dan meminta untuk menghentikannya karena uang sudah banyak tetapi Toph menolak untuk diatur seperti itu.
5. Keluarga Mai dan Ty Lee
Mai dan Ty Lee adalah dua sahabat Azula sejak kecil. Mai pendiam, tidak ekspresif dan sangat cepat bosan. Dia juga tidak begitu peduli dengan nasib negara api, semua dilakukannya karena dia bosan dan ingin membantu Azula sebagai teman. Dia berperilaku begitu karena ibunya sangat mengatur hidupnya sehingga dia jadi malas mengekspresikan dirinya. Sedangkan Ty Lee, karena penampakkan secara fisik sama dengan semua saudaranya membuat dia selalu ingin tampil beda dan cenderung ingin diperhatikan.
Selain hal-hal di atas, serial Aang ini juga lengkap dengan humor-humor segar, kejadian mengharukan, dan quote-quote bijak dari Uncle Iroh. Jika seandainya Avatar tayang di jaman ini, mungkin akan sama hebohnya dengan Game of Thrones. Semua karakter punya development yang subtle dan mengalir.
Bagi yang pengen nonton lagi atau baru pengen nonton, serial ini ada di Netflix ya, lengkap dengan pilihan subtitle Inggris dan dubbing bahasa Indonesia. FYI dulu serial ini ada di Global TV dari tahun 2005-2008. Bagus banget asli, di IMDB aja ratingnya 9.2 padahal sudah belasan tahun yang lalu.
Komentar
Posting Komentar