Sebenarnya sudah lama banget pengen nulis tulisan ini.
Akhirnya di suatu pagi yang menggembirakan, karena ga jadi pergi ke Jakarta,
memutuskan untuk menulis saja. Keputusan yang jarang, karena biasanya, lebih memilih untuk tidur.
Dalam suatu diskusi, ada yang bertanya, apa tujuan hidupmu?
Ada yang menjawab “Beribadah”. Lalu kira-kira hal apa yang membuat mu bahagia?
Lalu ada yang menjawab, “Semua kebutuhan dan keinginan bisa terpenuhi.” Jawaban
polos, dan yang menjawab itu aku. Lalu, ditimpali “Apakah kebahagiaan hanya
sebatas terpenuhinya kebutuhan dan keinginan?”. Sepi. Sepertinya memang banyak
yang belum tahu arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Untuk mencapai kebahagiaan, banyak orang yang mendefinisikan
sesuai versi mereka. Masing-masing orang pun jadi punya definisinya masing-masing.
Lalu pada akhirnya berusaha, berdoa kepada Tuhan agar apa yang ingin dicapai
bisa terkabul, melibatkan Tuhan dalam setiap hal yang ingin kita capai, agar
Dia meridhoi setiap langkah kita. Tuhan menjadi perantara agar semua tujuan dan
impian kita terwujud.
Wajar. Tapi dalam diskusi itu, aku terhenyak seketika ada
yang bertanya, sebenarnya mana yang merupakan perantara dan mana yang merupakan
tujuan?
Aku juga bingung. Ternyata selama ini aku berpikir bahwa ketika kita mempunyai impian, kita bisa 'meminta’ Tuhan agar melancarkan dan mengabulkan
impian kita.
Tapi diskusi itu menyadarkan, harusnya dibalik. Tujuan hidup
kita, untuk menuju Tuhan. Impian, target dan rencana hanya sebagai perantara, menjadi semacam investasi yang akan menjadi
bekal kita di akhirat nanti, modal dan kendaraan kita menghadap kepada-Nya.
Dengan begitu, semoga, semua impian target dan rencana kita akan diberkahi-Nya dan diridhoi oleh-Nya.
Komentar
Posting Komentar