Ada kalanya seseorang merasa bahwa dirinya bukan apa-apa, apalagi jika melihat orang seumuran sudah mencapai targetnya, sudah membuat suatu karya sehingga dikenal banyak orang, atau bisa dibilang sudah shining brightly. Da kadang kita (apa aku doang ya) membatin 'Aku mah apa atuh, hanya sisa-sisa cabe gorengan yang tidak dimakan'. Haha lebay ya. Walaupun sebenarnya kita tahu bahwa membandingkan diri sendiri dan orang lain adalah teori terburuk sepanjang bumi masih berada di galaksi Bima Sakti. Namun terkadang hal itu terlintas di pikiran kita barang sedetik atau dua detik.
Jujur, aku kadang masih begitu lho, apalagi jika serangan ketidakseimbangan hormon datang, bisa hampir depresi hahaha. Salah tiga penawarnya adalah bertemu dan ngobrol sama orang lain, mendengarkan ceramah Ust.Nouman, atau membaca Quora bagian Life Advice. Ada jawaban Quora yang sengaja kusimpan untuk dibaca kembali sewaktu-waktu. Dan apa yang kutulis ini adalah berdasarkan jawaban itu. Abaikan apa pertanyaannya, intinya jawaban itu ingin memberi tahu kalau setiap individu itu sangat berharga.
Banyak orang mengartikan 'being great', 'being important', 'being significant' atau gampangnya menjadi seseorang yang berarti, merupakan pemenuhan ekspektasi banyak orang atau dianggap sebagai 'what society tells you', 'what your family tells you' atau 'what your friends tell you'. Hal tersebut secara tidak langsung membuat kita mengukur 'being great' berdasarkan apa yang orang lain inginkan pada kita. Jadi dorongan 'being great' bukan atas kemauan sediri, cita-cita, mimpi, apalagi karena Tuhan. Jika kita tetap mengukurnya berdasarkan ukuran orang lain, maka tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah ada endingnya. Agar tidak seperti itu, kita perlu memandang 'being great' dengan sudut pandang yang berbeda, yang tidak sekedar dihargai dan dipandang, atau bahkan sekedar dikenal orang.
Sudut pandang lain itu adalah kita menyadari bahwa setiap manusia itu sudah berharga dari sononya. You are already significant without other people validation. Dan signifikansi diri kita sama sekali tidak ada hubungan nya dengan keberhasilan/kegagalan kita dalam melakukan sesuatu. Karena apa? Karena kita punya orang-orang yang meghargai kita apa adanya, tidak peduli seberapa banyak kita pernah gagal dan tidak menuntut apa-apa dari kita. Orang tua, keluarga, teman dekat, teman seperjuangan, dan sebagainya. Dan yang pasti, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita.
Bagi mereka, kita penting dan berharga, dan mereka selalu peduli pada kita apapun kondisinya, baik dalam suatu keberhasilan atau kegagalan yang membuat kita terlihat bodoh.
Ketika kita butuh dukungan dan bantuan, mereka selalu ada.
Ketika kita menyakiti mereka, mereka masih setia.
Ketika kita menjauh, mereka selalu menanti kita kembali.
Dan seharusnya, kita memandang diri kita sebagaimana mereka memandang kita.
"You are already important in their eyes, and you can never fall out of their favor."
Jika kita memandang diri kita sebagaimana orang-orang yang mecintai kita apa adanya memandang kita, maka tidak akan ada lagi pembandingan diri sendiri dengan orang lain, tidak akan ada lagi arogansi-arogansi yang muncul hanya karena ingin dipuji oleh orang lain. Karena kita sudah berharga tanpa itu semua.
"You are already great."
Kita tidak akan lagi berusaha memenuhi ekspektasi banyak orang untuk menjadi 'being great', kita tidak butuh pengakuan orang lain dan kita tidak perlu membuktikan apa-apa.
Setelah menyadari hal ini, aku, secara pribadi menjadi lebih mencintai diri sendiri apa adanya, dan semakin menyayangi orang-orang terdekat yang menerimaku apa adanya, dan selalu loving me unconditionally.
Kita akan menjadi tulus dalam melakukan setiap hal, tidak berharap apa-apa, baik balasan dari orang lain, apalagi pujian. Apakah orang lain akan mengenal atau menganggap kita keren dan berarti atau tidak, bukan lagi menjadi tujuan dan urusan kita.
Ini sama dengan meluruskan niat.
*Ditulis satu jam menjelang suatu rapat di tanggal cantik 05/05/15*
Komentar
Posting Komentar