Langsung ke konten utama

"Build the Locals" A Story from Komunitas WPL

WPL adalah singkatan dari Warga Peduli Lingkungan, berlokasi di Pancoran Mas, Depok.

Story begins.
Cerita ini berawal dari sebuah ide di battle project Wonosobo Muda tentang bank sampah. Kita mau mencari role model untuk bank sampah yg sudah ada di Wonosobo.
Setelah mendapat kontak dengan bantuan Mbah Gugel, aku segera menghubungi pengelola salah satu bank sampah di Depok, Pak Baron, dan membuat janji bertemu.
Awalnya, aku dan Desti cuma mau tahu tentang bank sampah, tapi ternyataa Pak Baron dan Istri, Bu Wulan, juga punya beberapa proyek sosial. Jadilah mereka menumpahkan semua cerita nya kepada kami. Tidak hanya itu, kami juga jadi mendapat beberapa ilmu tentang mewujudkan ide-ide baik #tsaaah. Jadi merasa beruntung sekali bisa berdiskusi dengan mereka.



*Berawal dari Keprihatinan
Munculnya komunitas ini berawal dari keprihatinan terhadap ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitar. Setelah para ibu selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka tidak mempunyai aktivitas, sehingga waktu dihabiskan untuk menonton tivi atau sekedar mengobrol. Padahal mereka termasuk usia produktif, yaitu di usia 20-40 tahun. Melihat hal itu, Ibu Wulan tergerak untuk mengajak mereka memanfaatkan waktu luang, sekaligus memberdayakan mereka. Awalnya Ibu Wulan hanya mengajak untuk memilah dan memanfaatkan sampah. Namun sekarang sudah merambah ke bisnis abon ikan. Tidak hanya itu. Mau tau? (Awas kalau jawab enggak! xD)

*Mengeruk Manfaat dari Sampah dengan Garbagepreneurship
Siapa sangka kalau ternyata sampah juga bisa memberi manfaat, jd sarana penyaluran kreatifitas sekaligus menambah produktivitas. Melalui bank sampah, Pak Baron dan Ibu Wulan berhasil mengajak warga di RT nya untuk peduli dengan lingkungan, salah satunya dengan memilah sampah. Sampah organik diserahkan ke petugas kebersihan, sedangkan sampah plastik, beberapa diolah menjadi produk kerajinan. Kenapa produk kerajinan? Karena beberapa warga mempunyai keterampilan turunan dalam hal anyam-menganyam. Pak Baron menyadari bahwa keterampilan tersebut adalah local wisdom, yang harus digali dan dikembangkan. Sempat didatangkan trainer untuk melatih ibu-ibu membuat kerajinan dari kemasan plastik, dengan bayaran per sesi. Sampai akhirnya ada orang yang menjadi trainer, tanpa bayaran, hingga para ibu-ibu bisa mengembangkan kreatifitasnya sendiri.
Hal yang menjadi tantangan kemudian adalah, membangun kesadaran warga untuk memisahkan sampah dan mengumpulkan sampah non organik. Mekanisme yang mereka gunakan adalah warga diminta mengumpulkan sampah di rumah nya masing-masing dalam kantong yang diberi nama. Sampah dikumpulkan dua minggu sekali. Sampah yang mereka kumpulkan akan dicatat sebagai tabungan dan bisa diuangkan, serta bisa diambil sewaktu-waktu. Selain mempunyai tabungan, mereka juga diberi kesempatan untuk meminjam uang (kredit mikro) tanpa bunga sepeser pun.
Semangat para ibu tak terlepas dari ajakan para tokoh di masyarakat seperti Ibu RT yang antusias mendukung program ini.

Perjalanan bank sampah tersebut ternyata tidak semudah menggelindingkan kelereng, tapi sempat diwarnai dengan cemooh orang. 'Sampah kok dijual'. Padahal sudah capek-capek mendatangkan trainer dan melatih ibu-ibu. Apalagi, untuk membuat satu dompet saja, diperlukan kurang lebih 80 kemasan yang sama.  Namun hal tersebut tak menyurutkan langkah Pak Baron. Setelah kejadian itu, beliau mendapat tawaran untuk mengisi stand pameran di hari lingkungan. Kesabaran terbayar, semua produk habis terjual.
Hal yang menjadi pelajaran Pak Baron dalam memasarkan produk sampah adalah bagaimana membuat pengrajin dan warga sekitar bangga dengan karyanya, menghargainya walaupun bahan asalnya dari sampah. Dengan memunculkan sense of proud, orang juga akan ikut menghargainya sebagai karya.
Saat ini, bank sampah WPL sudah mendapat berbagai penghargaan. Dan ibu-ibu pengrajin juga beberapa kali menjadi trainer di tempat lain. Produk nya pun sudah meliputi pupuk organik, tabungan sampah, dan kredit mikro.
Keren ya, dari barang yang bagi kebanyakan orang tidak berguna sama sekali, dengan pengelolaan yang konsisten dan telaten, bisa memberikan manfaat kepada banyak orang.

*Membuka Peluang Bisnis baru dengan Potensi Lokal
Menyadari bahwa tidak semua warga, terutama ibu-ibu, punya keterampilan dalam mengolah sampah, Bu Wulan untuk mencari ide lain untuk memberdayakan mereka, yaitu bisnis abon ikan. Dengan memanfaatkan ikan patin, tuna dan tongkol, yg mudah ditemui di Depok, Bu Wulan dan warga mengolah nilai tambah produk lokal, dan kini laku di pasaran.

*Mempertemukan Komunitas dalam Kreatifitas
Ide ini berawal dari kondisi suatu taman kota, yang banyak dimanfaatkan sebagai tempat mabuk dan tawuran. Pak Baron dan istri punya ide, untuk mengadakan acara pas Ramadhan, ngabuburit dan buka puasa bersama dengan mengajak komunitas kecil di Depok. Awalnya ragu, pada mau gak ya. "Yaudah, kalau pada gamau, kita aja yang menganyam di sana. Haha" Kata Pak Baron bercanda. Setelah diurus perizinannya, ada beberapa yang mau bergabung. Dan setelah beberapa lama, banyak komunitas yang mau mengisi acara ngabuburit itu, dengan pertunjukan seni, dongeng anti korupsi, dan banyak lagi. Setiap ramadhan, setiap weekend, ada acara ngabuburit dan buka puasa gratis. Uang dan makanannya darimana? Sumbangan. Awalnya Pak Baron juga khawatir, kalau buka puasa gratis siapa yang mau menyumbang..ternyata ada saja bantuan dari orang-orang baik.

*Menyalakan Semangat Pendidikan dengan Taman Baca dan Bimbel Gratis
Awal berdirinya taman baca, juga diawali dengan langkah kecil. Secara iseng, Pak Baron membawa buku yang ada di rumah dan menggelar tikar di sebuah taman kota. Dengan begitu saja, banyak orang yang tertarik. Akhirnya sekarang telah dikembangkan 3 taman baca di 3 wilayah yang berbeda dan pengelolaan nya dibantu oleh orang lain.
Sedangkan Bimbel gratis ditujukan khusus untuk anak-anak di panti asuhan. Awalnya Pak Baron mengajak teman yang mengajar di bimbel, untuk menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di panti asuhan setiap weekend. Selama ini anak panti asuhan memang jarang sekali yang ikut bimbel, karena hanya dibiayai sekolah saja.
Hal itu dilakukan karena menurut Pak Baron, membekali anak-anak dengan ilmu merupakan bantuan jangka panjang untuk masa depan mereka, daripada memberi uang. Karena selama ini kebanyakan anak panti asuhan bersekolah di SMK, agai bisa cepat bekerja. Nah, dengan adanya bimbel, harapan nya makin banyak anak yang tertarik untuk ikut tes masuk PTN.
Dengan awalnya satu relawan pengajar, sekarang sudah banyak relawan yang mengajar dengan jadwal rutin. Bahkan ada yang menjadi donatur dan bisa membiayai beberapa anak untuk mengikuti bimbel di lembaga pendidikan.

Dari ngobrol2 dengan pasangan tersebut, aku menyadari banyak hal.
# ketika kita punya ide, dan melihat ada peluang untuk dilaksanakan, jalankan saja dengan apa yang dipunya. Tidak usah takut begini begitu, karena dengan menjalani kita akan belajar banyak, dan akan ada pertolongan.

# jika punya ide yang berkaitan dengan masyarakat, sebaiknya pelajari dulu local wisdomnya, apa yang dipunyai masyarakat, potensinya apa, lalu manfaatkan potensi tersebut.

#kerjasama dengan tokoh masyarakat itu penting, terutama untuk mengajak lebih banyak orang berpartisipasi. Maka mengenal mereka dengan baik adalah suatu langkah awal yang wajib dieksekusi.

#jalin koneksi seluas-luasnya selagi masih muda. Koneksi itulah yang kelak bisa membantu mewujudkan ide kita.

#ketika menjalankan suatu ide, mungkin memang ada yang kemudian sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak punya banyak waktu untuk ikut membantu. Tapi, tetaplah berjalan, sebisa mungkin, dan ajaklah teman-teman lain yang selalu punya stok semangat.

Aku jadi belajar, bahwa tidak ada yang menghalangi terwujudnya niat baik, selain diri kita sendiri.


Story ends.

*Thanks for reading :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.