Langsung ke konten utama

Bapak-Bapak Semesta

Suatu malam di jalanan Jakarta.

Seorang bapak kulihat duduk di angkot. Membawa tas kerja. Memandang keluar jendela. Selepas melakukan tanggung jawabnya, sebagai karyawan, untuk memenuhi perannya sebagai suami dan bapak, dan sebagai apapun yg ilmu atau tenaganya dibutuhkan.

Seorang bapak pergi naik kereta, dilanjutkan dengan angkot atau ojek. Bersama dengan manusia lain meniti jalan tak nyaman setiap hari. Ketidaknyamanan tak membuat berhenti. Ketidaknyamanan menjadi nyaman karena dilakukan setiap hari. Menjadikan kenyamananya ada di mana-mana.
Saat pulang bapak itu tetap saja menunjukkan muka tulus. Walaupun mungkin saja harinya penuh dengan himpitan masalah.

Kulihat lagi bapak yang lain. Dengan muka yg nampak lelahnya, tetap melayani orang lain sampai ke tujuannya. Baik sekali orang yang mau menjadi penghubung orang lain sampai ke tujuannya. Walau dengan bayaran yang tak seberapa.

Kulihat lagi bapak yang lain. Mendorong gerobak entah sampai ke mana, sepertinya ke pasar. Tak kenal waktu dan dan rasa lelah, bapak itu tetap mendorong gerobak melewati mobil, motor, sepeda, dan orang jalan berlalu lalang.

Kulihat lagi bapak yang lain. Menjajakkan makanan sederhana, jagung dan kedelai rebus. Entah seberapa itu untungnya. Tak kenal putus asa menawarkan kepada semua orang yang melewatinya.

Kulihat lagi bapak yang lain. Sampai malam masih saja memperbaiki fasilitas stasiun yang rusak. Beradu dengan mesin yang bunyinya bisa saja merusak telinga. Menahan sakit dan lelah karena memang itu konsekuensinya.

Masih banyak bapak-bapak semesta di luar sana. Yang tidak bisa menampakkan kasih sayang kepada keluarganya dengan sentuhan dan kata seleluasanya. Kasihnya diwujudkan dengan penerimaan atas semua risiko pekerjaannya, demi memberi rasa aman dan bahagia.

Pengorbanannya dipendam sebisanya, karena tidak semua orang bisa melihatnya. Dan mungkin memang tidak ingin diperlihatkan.

Kasih sayang yang mungkin sangat sulit terlihat nyata. Tapi ada.
Bapak-bapak semesta mengajarkanku pelajaran tanpa kata-kata.

Lalu
Maukah, engkau berdoa untuk mereka yang kau lewati?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.