Langsung ke konten utama

What I Think About Swimming and Running

Kini lari/jogging dan berenang menjadi olahraga kegemaranku, setelah lama sekali gak ikut badminton. Lari dan berenang seperti menjadi kepuasan batin tersendiri. Keduanya juga tidak memerlukan atribut khusus. Lari bisa memakai kaos dan celana dan sepatu olahraga, sedangkan berenang hanya perlu pergi ke kolam renang dan baju renang. Kedua olahraga itu sangat berbeda dari segi arenanya, satu di darat satunya di air. Namun, keduanya memiliki begitu banyak persamaan!
                Pertama, kedua olahraga itu bisa dilakukan sendiri, gak harus bersama lawan atau tim. Jadi jika melakukannya sendiri, satu-satunya lawan adalah rasa lelah, keluhan, ketakutan jika tidak mampu, dan ketidakyakinan pada diri sendiri.


                Kedua, lari dan berenang membuatku berani menantang (ceilah) diri sendiri dengan menetapkan target yang lebih jauh dari sebelumnya. Jika minggu ini bisa sekian Km, maka selanjutnya mesti lebih  jauh, atau paling tidak bisa sama. Untuk renang sebenarnya gak cuma jauhnya yang diukur, tapi kualitasnya juga yaitu seberapa tenang kita berada di dalam air, meskipun dalam.
                Ketiga, renang dan lari sama-sama mempunyai filosofi menarik buatku. Dari lari, aku belajar menerima rasa sakit, lelah dan tidak menyerah sampai tiba di target. Jangan pikirkan dan rasakan lelahnya Karena memang tak terhindarkan. Rasakan saja semilir anginnya, tapak jalannya, dan hebusan nafas yang lama-kelamaan terengah. Lama-lama gak akan krasa. Oia, do not forget to run in a steady pace ya. Kalau sampai target, rasanya senang tak terkira.

Renang bagiku juga melatih mental bangeet. Mayoritas orang belum bisa berenang Karena takut tenggelam, takut berada di dalam air. Untuk bisa berenang justru kita harus menikmatinya. Menikmati berada di dalam air adalah kunci bisa berenang. Orang yang panik ketika di air, pasti akan tenggelam sewaktu di air. Kalau pun bisa, renangnya bakal capek banget dan ngos-ngosan. Itu aku dulu haha. Gatau ya kenapa, apa orang panik berat massanya lebih besar dari air? Itulah kenapa renang melatih orang untuk tidak panik. Intinya renang melatih untuk menaklukan ketakutan diri sendiri, dan menikmati apa yang ada, yaitu air. Renang bukan seberapa jauh, tapi seberapa tenang kita ketika berada di dalam air. Kalau pas renang menetapkan jarak, malah kadang jadi gak tenang, pengen cepet-cepet sampai tujuan. Padahal tujuannya udah ada dan gak akan berpindah tempat ya. Jadi pas renang, gak perlu cepat-cepat, asalkan nikmati aliran air dan pasrahkan tubuh, serta ayunkan tangan dan kaki dengan rileks. Pasrah, nikmati kondisinya daan tetap berusaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.