Kamis lalu, dan beberapa hari dalam dua tahun belakangan,
hari saya diwarnai oleh banyak warna emosi, positif dan negatif, baik yang
berasal dari orang lain, sampai yang berasal dari diri sendiri.
Kamis lalu, ada yang notice bahwa emosi saya sedang tidak
stabil. Padahal di tulisan sebelumnya, saya menulis bahwa emosi negative dari
orang lain tidak seharusnya dimasukkan ke dalam hati. Hahaha, kemakan omongan
sendiri kan. Gapapa, karena semua tulisan di blog ini memang untuk mengingatkan
diri sendiri,jadi ya harap dimaafkan kalau-kalau lupa diaplikasikan. Orang yang
notice itu langsung mengajak saya makan di luar dan memberi beberapa masukan. Salah
satunya adalah watch again your intention to do what yo want to do, jangan
sampai salah niat, jangan keluar karena sesuatu yang mengganggu, tapi keluarlah
karena ada kesempatan di luar sana yang lebih besar. Jangan memutuskan sesuatu
karena emosi. Redam dulu emosinya.
Di lain waktu, saya juga diberi nasehat oleh teman baik
saya. Ketika saya bingung apakah ini saatnya menaklukkan ketakutan diri dan
break the limit, atau saya harus mengakui bahwa saya punya limit. Katanya “You don’t
need to admit anything, because we are all have those limits.” Saya jadi sadar,
melakukan sesuatu yang serasa menguras energi, baik secara fisik dan emosi,
adalah bukan tentang batasan diri, tapi pilihan. Ini adalah tentang pilihan
diri sendiri untuk berhenti atau terus menjalani. Jika terus menjalani,
jalanilah dengan baik, jangan mengeluh karena kamu sudah memilih. Jika
berhenti, ya terima risikonya. Intinya jangan pernah mengeluh dengan segala
sesuatu yang telah kita pilih.
Komentar
Posting Komentar