Langsung ke konten utama

Happy Families

Pas lagi sahur tiba-tiba kepikiran buat nulis ini. Tulisan ini bukanlah tips-tips bagaimana menjadi keluarga bahagia karena saya belum berkeluarga dan bahagia juga bukan dicari tetapi untuk dihadirkan.
Nah, jadi selama kuliah dan pasca kuliah, aku bertemu dengan beberapa teman yang kini jadi sahabat, yang membuatku berdecak kagum, tidak hanya dengan diri mereka tetapi juga KELUARGA mereka. Sejak berkenalan dengan mereka, aku juga mendapat banyak sekali cerita tentang keluarga mereka yang hebat - yang menurutku, membuat mereka, di mataku adalah juga orang yang hebat. Bahkan aku sempat menggumam "such a perfect family", meskipun sebenarnya ga ada yang sempurna. Dari mereka, aku percaya bahwa anak-anak yang bahagia juga dilahirkan dari keluarga yang selalu menghadirkan kebahagiaan, dalam situasi apapun.
Siapakah mereka?

Sebut saja A
A adalah teman kuliah satu jurusan. Teman yang entah kenapa membuatku nyaman cerita apapun, termasuk riwayat hidupku dan sisi menye-menye yang sebelumnya gak pernah kuceritakan ke orang lain, termasuk sahabatku di SMA. Sekarang dia sedang di Edinburgh menemani suaminya yang sedang studi S3.
Mengenal A dan keluarganya adalah awal mula aku menyadari bahwa ternyata penting ya peran keluarga terhadap pembentukan kepribadian dan cara manusia menghadapi masalah. A sabar banget dan gak pernah marah, selalu menyenangkan hati. Malah kadang aku yang ngambek sama dia pas kuliah dan sempat beberapa kali aku jutekin heheheu #nakal. Dan dia sama sekali gak menjauh.
Waktu kerja praktik, aku juga menginap di rumahnya karena tempat KP nya berlokasi di bandara Soekarno Hatta dan pas sekali ayahnya juga bekerja di daerah sana sebagai direktur Air Nav.

Pas nginep di sana berasa punya keluarga baru dan diperhatiinnya kaya anaknya sendiri. Setiap pagi sebelum kerja ibunya membuatkan jus segar (campuran berbagai buah) sebagai sarapan. Ternyata sehat juga ya, maghku jadi jarang kambuh. Nah, dari sana lah aku mulai terinspirasi kalau pagi-pagi makannya buah aja hehe. Setiap pagi, kami berangkat kerja praktik bareng sama ayahnya A, naik mobil diantar supirnya. Pulangnya kadang dijemput :)). Karena tinggal di rumahnya itulah, aku jadi tahu semua anggota keluarganya. Semua anggota keluarganya juga dekat satu sama lain.
Keluarganya juga super duper humble dan murah hati. Keluarga A gemar membantu orang lain, salah satunya membiayai sekolah anak dari asisten rumah tangganya dan supirnya.

Sebut saja U
Mengenalnya saat ada acara Social Media Week 2016. Aku suka datang ke acara-acara seperti itu meskipun sendirian. Kebetulan kok dipertemukan dengan sosok satu ini. Saat itu U jadi pembicara, dan aku jadi peserta. Di akhir acara, pas setelah sholat, aku membeli bukunya yang berjudul Teman Imaji. Sebenarnya udah tahu sejak lama, karena aku follow suaminya di Tumblr dan beliau sangat gencar promosi bukunya melalui quotes yang dikemas sangat menarik.
Setelah membeli buku kami mengobrol dan berakhir dengan pulang bareng naik kereta, karena kebetulan aku ke Depok dan dia ke Bogor. Di jalan kami cerita banyak hal tentang kisah pribadinya, start up nya dan juga bukunya, dan juga sekolah yang dibangun oleh ayah ibunya.
Meski baru sekali bertemu, dia langsung mengundangku untuk datang di resepsi pernikahannya. Sekali waktu dia curhat tentang masa lalunya - tanpa kuminta, tentang kekhawatirannya sebelum melahirkan, dan bertanya soal start-up, meminta saran tentang sekolah profesi IT yang ingin dimasukinya.
U adalah sosok yang aku langsung klop waktu baru pertama kali berjumpa. Bahkan kita pernah mau datang suatu konferensi bersama, yang kemudian ga jadi dan malah aku yang diundang di acara 4 bulanan kehamilannya. Saat lahiran juga aku diundang ke rumahnya, bertemu ayah dan ibunya, suaminya dan sempat bersalaman dengan orang yang mengasuh U sejak kecil.
Dari U juga lah aku belajar banyak hal seperti pentingnya bekerja keras, menjaga sopan santun dan tetap hormat dengan orang lain,  memperlakukan teman, sayang dengan orang tua, sama-sama kecanduan ted talks, dan hal-hal lain yang tanpa sengaja kami bisa sepemikiran. She is such a lifetime friend and a soulmate friend.

Dan sekarang aku diajak untuk mengerjakan proyek di start-upnya untuk meningkatkan kualitas aplikasi belajar yang diperuntukkan bagi semua cabang sekolahnya, dan juga beberapa sekolah yang menjadi kliennya. Dari kerjasama itulah, aku semakin mengenal sosok keluarga U. Ayahnya adalah dokter hewan dan dosen di IPB, ibunya juga dosen di Statistika IPB. Keduanya telah membangun sebuah SMK yang menurutku bisa menjadi panutan sekolah di Indonesia. SMK-nya menerapkan peraturan yang unik, seperti semua siswa wajib melakukan piket untuk operasional sekolah, misalnya menjaga kantin, menjaga pintu gerbang, menjaga toko, mengelola kebun roof top, mengelola kebersihan sekolah. Dan ketika mereka bertugas, maka dibebastugaskan dari kelas seharian. Hal itu menjadi salah satu langkah penghematan anggaran sekolah dan juga sekaligus menjadi latihan bagi mereka untuk merasakan berbagai macam tugas hidup, dan bahwa melakukan itu semua bukanlah hal yang memalukan. Di kantin, juga menerapkan aturan bebas plastik. Kalau jajan siswanya membawa tempat makan sendiri agar mengurangi sampah.

Selain itu, ayah dan ibunya ramah sekali. Saat aku mau salat di rumahnya, ibunya U menyiapkan perlengkapannya seperti menggelarkan sajadah, sangat memuliakan tamu. Ayahnya juga baik. Pernah sekali waktu aku dari SMK dan waktu pulang diantarkan ke Depok karena ayahnya sekalian mau ke daerah Pasar Minggu. Padahal bisa saja langsung ke Pasar Minggu melalui tol. Tapi beliau rela melewati Depok demi mengantar aku, hoho.

Sebut saja M
 Kenal M udah dari sejak kuliah karena dia juniorku di kampus. Tetapi ya cuma saling tahu aja, gak kenal banget. Pas jadi asdos fulltime semester ini, kami jadi dekat karena hanya kami asdos yang angkatannya beda jauh dengan asdos lain haha.
Hampir setiap hari kami janjian datang ke kampus enggak atau ke kampus jam berapa. Dan setiap hari juga kami nongkrong bersama di lab RSE, lab Ilkom yang sama sekali kami gak paham penelitiannya tentang apa. Dan selalu ada cerita (terutama dari M sih) setiap harinya. Ceritanya pun gak penting, misalnya aku salah ambil shampo, yang kebeli conditioner dan nyadarnya pas di kamar mandi atau M yang kadang fail dengan kehidupannya hahah. M juga selalu cerita tentang teman-temannya di komplek yang kocak dan kompak, yang membangun komunitas remaja masjid bernama Pilar Jakarta.
Gak nyangka pula, M sangat suka dengan kegiatan sosial dan pendidikan. Dia jadi ambassador program CSRnya PLN, maksudnya membuat kegiatan CSR dengan komunitasnya sekaligus menjaring teman-teman lain yang juga punya kegiatan sosial untuk ikutan pitching di PLN, misalnya anak-anak pengabdian masyarakat BEM Fasilkom, bahkan Wonosobo Muda juga diikutkan di pitching tahun ini. Semoga tembuss. Aamiin!
Dari M aku belajar totalitas dalam melakukan sesuatu. Demi mensukseskan mata kuliah yang dia pegang, dia berinisiatif untuk mengambil foto penderitaannya di KRL dan ikut kompetisi foto untuk mendapatkan uang tambahan guna membeli hadiah untuk exhibition mata kuliah tersebut. Dan saking ambisius-nya, dia menang dengan penuh perjuangan dan bantuan dari driver Gojek yang dimintain tolong untuk menyebarkan link vote foto ke driver gojek lain, #SalamSatuAspal wkwkwk. A random and lucky success.
M juga sering cerita tentang Papa-Mamanya. Terlahir sebagai anak tunggal tidak membuatnya kesepian, justru malah dekat sekali dengan orang tuanya. Papa dan Mamanya punya rumah yang dijadikan pesantren untuk tempat menghafal Al Quran santri-santri yang berasal dari mana-mana dan membayar ustad yang mengajarnya. Mereka juga yang membiayai kebutuhan sehari-hari para santrinya. Bahkan pernah, M seorang diri mengadakan acara lomba untuk para santrinya.
Selain itu, mamanya juga menyelenggarakan pengajian khusus ibu-ibu di kampung dekat komplek perumahannya, agar mereka juga terpapar dengan kebaikan dan bisa belajar agama. Pesertanya sampai 400an dan setiap tahun juga memberi daging kurban kepada mereka. Keluarga yang berkah sekaliiii :)

Pokoknya kalau bersama mereka aku selalu happy wkwk. Senang sekali bisa belajar banyak hal. Aku yang dulunya galak-tukang iri-suka ngejudge ini jadi menyadari banyak hal, terutama dalam memperlakukan orang lain. They all are very excellence dalam memperlakukan seorang teman. Aku kadang jadi malu sendiri, karena kadang masih memberikan negative vibes ke teman-teman, misalnya ngeluh dan pesimis, dan gak sadar ngejudge orang lain, hoho. Jadi merasa beruntung sekali bertemu dengan mereka karena bisa jadi belajar juga dari keluarganya :))

Sekian ceritanya, nanti kalau ada yang menarik untuk ditulis, kutambahin lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.