Setelah lama gak nulis yang ditujukan untuk diri sendiri, akhirnya ini saatnya! yeeay
Jadi akhir tahun lalu aku kembali menonton drama Korea yang sudah pernah kutonton 13 tahun yang lalu. Dulu nontonnya taunya kesel dan seneng aja. Lha kemarin pas nonton kok ada yang makjleb ya wakaka.
Ceritanya ada pangeran putra mahkota yang dijodohkan dengan anak dari teman kakeknya, dan ya gadis itu bukan tipenya banget. Pangeran itu sebenernya sangat gak suka dengan kehidupan istana yang terlalu kaku dan banyak peraturan. Dia sangat terobsesi menjadi sutradara suatu saat nanti, tapi nasibnya sudah digariskan: jadi raja. Suatu saat dia ingin sekali meninggalkan posisi itu karena tidak yakin dia bisa menjadi raja sekaligus mendalami kesukaannya. Dia merasa dibatasi dengan previledge yang telah dipunya sejak lahir.
Setelah bertemu dengan gadis yang dijodohkan itu, dia mulai jatuh cinta, dan jadi yakin kalau dia juga bisa tetap mengejar mimpinya jadi sutradara meski harus hidup di istana. Dia terinspirasi dari gadis itu, yang bisa hidup dengan jujur, tidak membiarkan lingkungan terlalu mendikte hidupnya, dan gak menyerah pada keadaan.
Yang makjleb buatku adalah, kadang aku sendiri yang membuat batas-batas, yang akhirnya menutup banyak kesempatan dan pembelajaran.
Misalnya nih, dulu aku terobsesi banget untuk hidup dan tinggal di dekat dengan kota kelahiranku, alasanya biar bisa deket sama orang tua dan bisa menghidupi komunitas yang sudah kudirikan bersama teman-temanku. Aku pikir itu idealis, tapi ternyata aku telah membuat batas.
Padahal bumi Allah kan luas, kalau emang kita punya niat untuk melakukan sesuatu, di mana pun kita tinggal dan hidup, ya pasti ada saja jalan untuk berbuat apa yang kita mau, baik itu berbakti pada orang tua atau apapun itu. Kalau mau mencari jalannya, pasti ada aja. Aku juga merasa aku sotoy banget dengan hidupku, bahwa yang terbaik menurutku ya itu. Padahal yang terbaik itu dari Allah. Jangan membatasi definisi terbaik dengan standar kita sendiri.
Misalnya lagi, dulu banget aku juga membuat batas persepsi dan asumsi, bahwa orang yang mempunyai profesi kantoran atau semacamnya, hidupnya akan gitu-gitu aja, maksudnya hidupnya akan dibatasi oleh jam kantor, deadline dan sebagainya. Padahal ya gak gitu juga, karena semuanya tergantung bagaimana kita merespon dan menyikapi apa yang telah kita punya.
Aku merasa dengan mempunyai asumsi seperti itu, aku jadi gak menghargai pilihan hidup orang lain.
Begitulah, selamat berproses terus menerus!
Jadi akhir tahun lalu aku kembali menonton drama Korea yang sudah pernah kutonton 13 tahun yang lalu. Dulu nontonnya taunya kesel dan seneng aja. Lha kemarin pas nonton kok ada yang makjleb ya wakaka.
Ceritanya ada pangeran putra mahkota yang dijodohkan dengan anak dari teman kakeknya, dan ya gadis itu bukan tipenya banget. Pangeran itu sebenernya sangat gak suka dengan kehidupan istana yang terlalu kaku dan banyak peraturan. Dia sangat terobsesi menjadi sutradara suatu saat nanti, tapi nasibnya sudah digariskan: jadi raja. Suatu saat dia ingin sekali meninggalkan posisi itu karena tidak yakin dia bisa menjadi raja sekaligus mendalami kesukaannya. Dia merasa dibatasi dengan previledge yang telah dipunya sejak lahir.
Setelah bertemu dengan gadis yang dijodohkan itu, dia mulai jatuh cinta, dan jadi yakin kalau dia juga bisa tetap mengejar mimpinya jadi sutradara meski harus hidup di istana. Dia terinspirasi dari gadis itu, yang bisa hidup dengan jujur, tidak membiarkan lingkungan terlalu mendikte hidupnya, dan gak menyerah pada keadaan.
Yang makjleb buatku adalah, kadang aku sendiri yang membuat batas-batas, yang akhirnya menutup banyak kesempatan dan pembelajaran.
Misalnya nih, dulu aku terobsesi banget untuk hidup dan tinggal di dekat dengan kota kelahiranku, alasanya biar bisa deket sama orang tua dan bisa menghidupi komunitas yang sudah kudirikan bersama teman-temanku. Aku pikir itu idealis, tapi ternyata aku telah membuat batas.
Padahal bumi Allah kan luas, kalau emang kita punya niat untuk melakukan sesuatu, di mana pun kita tinggal dan hidup, ya pasti ada saja jalan untuk berbuat apa yang kita mau, baik itu berbakti pada orang tua atau apapun itu. Kalau mau mencari jalannya, pasti ada aja. Aku juga merasa aku sotoy banget dengan hidupku, bahwa yang terbaik menurutku ya itu. Padahal yang terbaik itu dari Allah. Jangan membatasi definisi terbaik dengan standar kita sendiri.
Misalnya lagi, dulu banget aku juga membuat batas persepsi dan asumsi, bahwa orang yang mempunyai profesi kantoran atau semacamnya, hidupnya akan gitu-gitu aja, maksudnya hidupnya akan dibatasi oleh jam kantor, deadline dan sebagainya. Padahal ya gak gitu juga, karena semuanya tergantung bagaimana kita merespon dan menyikapi apa yang telah kita punya.
Aku merasa dengan mempunyai asumsi seperti itu, aku jadi gak menghargai pilihan hidup orang lain.
Begitulah, selamat berproses terus menerus!
Komentar
Posting Komentar