"I am going to enjoy every minute of my live."
Begitulah kira-kira kesimpulan film Soul. Sebenarnya konsep filmnya bagus ya, ngajarin filosofi hidup yang sederhana. Dan banyak orang yang suka juga dengan filmnya. Aku kira sebagus Coco karena kek menang Oscar dan rating di IMDB juga bagus, di atas 8. Intinya bercerita tentang karir si protagonist yang obsesi menjadi pianist jazz, sementara ibunya sangat menginginkan dia menerima tawaran menjadi pengajar tetap full time di sekolah yang mana sudah terjamin hidupnya. Setelah mendapat apa yang dia inginkan, tiba-tiba dia kecebur lubang di jalan, pingsan dan jiwanya berkelana di alam para jiwa yang disiapkan masuk ke bumi.
Nah setelah kemarin nonton, kok jiwaku malah hampa kosong bingung gitu yaa, kyk ada yg mengganjal gitu rasanya.
Setelah menganalisis perasaan sendiri kenapa bisa kaya gitu, akhirnya ku membuat kseimpulan tentang film Soul ini.
1. Banyak pesan yang disampaikan melalui dialog dan straight to the point, jadi merasa cringe alih-alih dapat inspirasi.
Kayaknya preferensiku berubah deh setelah liat banyak film di pandemi ini haha. Sekarang jadi ga terlalu suka film yg ceritanya atau penggambaran karakternya banyak disampaikan lewat dialog langsung daripada melalui adegan di filmnya.
Di film Soul, kalimat penutup terasa hambar. Setelah di scene sebelumnya, jiwa nomor 22 menceritakan dia menikmati kehidupan di bumi, menikmati berjalan, makan piza, liat dau jatuh, liat anak sama ayahnya. Tetapi itu ditegaskan lagi lewat dialog.
Nah setelah scene menikmati hidup di bumi itu, masih ditegaskan lagi dengan kalimat penutup bahwa si tokoh utama akan menimati setiap menit hidupnya. Jadi too much dan cringe gitu menurutku. Sepertinya lebih ngena kalau di adegan penutup, tokoh utamanya sedang ngobrol dengan ibunya atau orang di barbershop sambil makan pizza dan mendengarkan musik. Jadi dapet gambaran gimana si tokoh utama akan menikmati hidup, emosinya akan lebih dapet daripada hanya lewat dialog.
Berasa sedang lihat tokoh utama menyampaikan nasehat yang dibuat oleh penulis, bukan melalui beberapa contoh adegan atau tindakan si tokoh. Ngasih pesan lewat tindakan itu lebih greget dan kongkrit aja menurutku.
Contoh adegan menikmati momen dalam hidup ada di banyak film-film Ghibli, salah satunya di film Ponyo. Cuma adegan makan ramen doang, tapi menujukkan kalau karakternya sukaaaa banget makannya, apalagi pas Ponyo buru-buru makan ham. Kita bisa ngebaca emosi tokoh pas menikmati ramen, jadi pengen makan dan menikmati juga.
2. Pesan sederhana tapi ceritanya agak bertele-tele.
Nah ini juga, sebenernya pesannya amatlah sederhana dan simple, tapi petualangannya menurutku cukup bertele-tele terutama pas You Seminar dan bolak balik dunia nyata dunia jiwa. Pas nyari-nyari si 22 buat baliki badge buminya. Jadi terkesan drama banget karena kayaknya di dunia ini ga ada yang merongrong orang-orang dan membully karena ga punya tujuan hidup. Tokoh-tokohnya seru si terutama 22 dan Jerry, tapi alur ceritanya aneh pas bagian akhir tiba-tiba diijinkan hidup di bumi lagi dengan mengelabuhi Terry.
3. Cerita kegagalan si tokoh menjadi pianis jazz tidak terlalu di-eksplor.
Nah ini juga yg kurang menambah greget cerita. Di menit-menit awal langsung diceritakan kalau tokoh diterima nge-gig di cafe jazz bersama musisi yang diidolakannya. Jadi ga krasa gimana si tokhoh pengeeeen banget jadi pianis jazz, ga keliatan dia frustasi betapa inginnya dia jd pianis jazz. Kegagalannya cuma ditunjukin pas udah masuk ke dunia jiwa dan itupun cuma sebentar banget.
Maaf buat penggemar film ini yang tidak berkenan filmnya dikritik hehe.
FYI, dosenku pernah bilang ketika karya dilepas ke publik, maka jadi milik publik. Orang bebas memberikan interpretasi berdasarkan pengalamanya. Jadi mari tidak baper dengan perspektif orang lain, karena pengalaman setiap orang, yang membentu persepsi, itu bereda-beda.
Komentar
Posting Komentar