Langsung ke konten utama

Haikyuu!: The Power of Hunger

Bagus atau tidaknya sebuah karya sinema itu sifatnya personal. Kadang ada karya yang dianggap bagus, tapi bagi sebagian orang dianggap membosankan, entah karena pacing-nya yang lambat, plotnya yang membingungkan, atau ceritanya yang terlampau mainstream. Bagiku, tontonan yang bagus adalah yang bisa menyampaikan sebuah nilai dengan bijaksana tanpa menghakimi, apalagi sampai bisa mengubah pandangan akan suatu hal. Haikyuu! (dengan tanda seru) adalah salah satu serial yang mengubah sudut pandangku tentang kompetisi, yang dulunya kuanggap tidak penting (karena bisa meninggikan ego ingin merasa lebih jago wkwk). Setelah menonton Haikyuu, mataku terbuka akan pentingnya sebuah kompetisi.

Melalui karakter Hinata Shouyou, nilai sebuah kompetisi disampaikan dengan apik. Dia mempunyai tinggi 163cm, cukup kecil untuk ukuran pemain voli yang kebanyakan pemainnya berbadan tinggi. Tapi kecintaannya kepada bola voli dan semangatnya untuk berkompetisi membawa kekuatan untuk menutupi tinggi badannya yang kurang. Dia selalu iri sekaligus kagum jika ada yang lebih baik darinya, atau iri ketika ada yang terlahir dengan badan yang besar dan tinggi. Karena dia mencintai voli dan olahraga, rasa iri itu diolah menjadi semangat untuk menutupi kekurangan tinggi badannya, dengan lari lebih cepat dan melompat lebih tinggi, serta stamina yang tiada habisnya. Rasa iri tidak membawanya ingin menjatuhkan yang lain, tapi justru menyerap ilmu dari orang yang kita iri dan sekaligus kagumi. Oleh karena itu, dia selalu menganggap semua teman yang juga bermain voli sebagai pesaingnya dan juga sumber pembelajaran.

Yak, Haikyuu! bercerita tentang perjalanan Hinata dan rekan setimnya menuju pertandingan bola voli nasional. Setiap kompetisi yang diangkat tidak hanya tentang menang dan kalah, tapi bagaimana para pemain atau atletnya memupuk kecintaannya terhadap voli. Ceritanya dibungkus dengan lucu dan penuh insights. Hinata yang awalnya bodoh, servis aja malah kena kepala orang, selalu muntah karena grogi kalau ketemu lawan yang jago, jadi berani menghadapi tantangan apapun. Kalau aku jadi Hinata mungkin lebih memilih mundur dan menyudahi saja wkwkwk. Tapi karena dia udah terlanjur jatuh cinta, maka apapun dikejar dan all out mengejar mimpinya untuk jago bermain voli. Dan untuk menjadi jago, kompetisi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kemampuannya. 

Serial ini sangat menjawab rasa penasaranku dari dulu tentang kenapa sebuah kompetisi itu penting. Rasa-rasanya serial ini mengerti anggapan banyak orang tentang kompetisi, kemudian secara halus diajarin 'nih kompetisi tuh buat ini lho sebenarnya'.

Dulu aku pernah ikut lomba macapat (puisi bahasa jawa) dan aku gemeteran. Dipilih ikut lomba Matematika, juga belajar sekenanya dan dapat ranking 2 terbawah. Karena pengalaman tidak menyenangkan itu, dan karena gak niat juga sih, aku jadi malas ikut lomba lagi haha.

Aku dulu bertanya-tanya, buat apa sih ikut lomba gitu? Biar bisa bangga? Biar bisa membanggakan orang tua? Biar bisa dianggap terhormat dan pintar dibanding yang lain? Pertanyaanku sih intinya, apa lomba cuma buat memberi makan ego seperti itu ya?

Tapi aku pernah ikut lomba essay dan menang, karena kebetulan suka topiknya, yaitu tentang Ekonomi Syariah. Rela begadang sampai jam 3 untuk presentasi jam 8 pagi karena aku lolos final. Lha kok, tiba-tiba juara. Mana saingannya anak ekonomi dari berbagai universitas. Karena tidak ingin dianggap pamer, aku tidak memberi tahu teman-teman, tahu-tahu bawa piala dan itupun kubungkus biar gak ketahuan wkwk. Waktu itu bangga? Enggak juga sih, lebih tepatnya senang karena dapat hadiah sajadah mahal dan uang, hahahaha.

Nah, pertanyaan selama bertahun-tahun itu dijawab di Haikyuu! Lewat Hinata aku paham rasanya bersemangat untuk sesuatu yang benar-benar kita cintai. Ketika melihat ada yang lebih bagus dan jago, terselip rasa iri dan kagum sekaligus, yang mendorong kita untuk belajar lebih lagi. Hal kaya gitu lah yang ga membuat bekerja seperti kerja, gak butuh lagi work life balance, melainkan work life integration.

Serial ini juga menyediakan alternatif lain tentang alasan kenapa kita harus serius dan berusaha sekuat mungkin untuk sesuatu yang kita suka untuk lakukan.

Pertama, ketika Yamaguchi gemas sama Tsukishima karena latihan sekenanya. Tsukki bertanya, kenapa sih orang berusaha segitunya untuk sebuah klub, kan hanya kegiatan klub. Yamaguchi menjawab kurang lebih ya biar diri kita bangga. Tapu Tsukki gak puas sama jawaban itu, dan bertanya ke orang lain (yakni Bokuto yang suka teriak Hey hey hey).

Bokuto: Kamu suka voli? apakah voli menyenangkan?
Tsukki: biasa aja, gak benci juga.
Bokuto: ya itu karena kamu gak jago (hahaha jleb banget sampe ke ulu hatiku)
Bokuto : ketika sudah di tahap suka, menang itu bukan hal yang terlalu penting, hal yang luar biasa adalah ketika kita mengeluarkan effort 120% untuk mendapat poin, dan berhasil. Ketika momen itu terjadi, maka itulah puncaknya kita menjadi tergila-gila dengan voli.

Rasa 'tergila-gila' akan mengalahkan rasa bangga karena lebih jago. Rasa itu seperti rasa lapar yang walaupun kita udah makan, keesokannya akan lapar lagi, dan ingin belajar hal baru lagi. Rasa bangga dengan sendiri nya akan muncul, dengan nuansa yang lebih sehat: bangga karena diri sendiri sudah sejauh ini, bukan bangga telah mengalahkan orang lain. Bangga yang kedua seringkali membawa ke arah yang tidak sehat secara psikis, menurutku. Jika hanya ingin mengalahkan orang lain, pertama kita berpotensi untuk sombong (meski di dalam hati), bukan sombong bercanda ya, tapi sombong yang merasa lebih baik dari orang lain dan bisa jadi menganggap orang yang kalah itu buruk. Kedua, secara tidak sadar jadi orang yang menyebalkan karena selalu ingin merasa menang. Ketiga, rasa itu berpotensi membawa manusia menghalalkan segala cara untuk menang karena malu jika kalah.

Rasa lapar yang muncul membuat para tokoh di Haikyuu selalu ingin menang dengan cara terus belajar menaklukkan teknik baru, menaklukkan ketakutan diri sendiri, dan mencari hal yang membuat diri berkembang. Ibarat ketika kita sudah lapar, maka kita tidak lagi butuh alasan untuk makan. Rasa lapar untuk menguasai ilmu atau keterampilan tertentu sudah sangat cukup menjadi alasan untuk berusaha meningkatkan kemampuan. Ketika berhasil di tahap itu, untuk terus melesat kita tidak butuh lagi alasan seperti agar dipuji orang lain atau  keinginan untuk dianggap terhormat di masyarakat, karena tujuan utamanya hanya untuk menghilangkan rasa lapar itu.

Serial ini membuat bertanya-tanya, apa ya yang membuatku merasa lapar akan sesuatu? Yang bisa membuat excited dan tertarik belajar terus-menerus.

Komentar