Langsung ke konten utama

Perspektif Berbeda Saat Rewatch Drama jaman SMP untuk Kedua Kali

Rewatch drama jaman dulu selalu ngasih after taste yang berbeda.

Princess Hours adalah drama Korea adaptasi komik Korea yang inti ceritanya adalah meniru drama Princess Diana. Hampir mirip sih meski cukup berbeda. Intinya drama yang mengandaikan kalau Korea masih menganut sistem monarki republik, ada raja dan perdana mentri. Serial ini khusus menyoroti drama politik kekuasaan, masalah keluarga, dan komedi romantis.

Dulu waktu sekolah nonton kayaknya cuma fokus ke tokoh yang baik atau lakon, dan jahat, atau musuh. Pokoknya siapapun musuhnya, dan apapun yang dia lakukan untuk menghalau lakon, akan selalu dimisuhi wkwkwk.

Nonton Princess Hours kedua kali tahun 2016, punya point of view yang beda lagi. Pas jaman ini, aku kaya "Ihh bosen banget ya rumus drama Korea, sangat tidak realistis. Pasti ada satu cewek diperebutkan dua cowok, lalu ada satu cewek lagi yang naksir salah satu cowok. Belum lagi adegan khas romansa Korea yang cringe banget, ada adegan jatuh lah, berantem, dari benci jadi cinta lah dan sebagainya."

Tapi waktu itu tetap ditonton sampe selesai si meski cuma intinya aja wkwk.

Menjelang akhir tahun ini, memutuskan untuk nonton lagi, menguji apakah persepsiku terhadap serial ini akan berbeda. Dan ternyata iya wkwk. Setelah nonton lagi justru jadi kagum dengan beberapa hal.

Hal yang paling bikin kagum tentu saja adalah desainnya terutama interior istana dan pemilihan baju yang timeless classic. Desain bajunya bagus bangeeet, masih relevan setelah pergantian mode fashion. Interiornya juga ada menggabungkan tradisional asia dan barat. Furnitur dalamnya juga gak kalah bagus, terutama rumah putra dan putri mahkota. Dinding, hiasan dan sebagainya kaya menyatukan kultur asia dan barat.

Hal kedua yang bikin kagum juga adalah pemilihan kata atau diksi. Sangat sastra sekali. Karena lingkungan istana kali ya. Nyindir orang pake perumpamaan, nolak orang pake perumpamaan juga. Meski kata orang itu bertele-tele dan tidak to the point, tapi menurutku itu bagus-bagus aja di situasi istana, mengungkapkan emosi tapi tetap menghargai perasaan orang lain dengan tidak mengungkapkannya secara blak-blakan.

Hal ketiga adalah layering karakter. Bagiku, cerita dalam serial kan mayan panjang, jadi harusnya bisa menyampaikan ke penonton tentang layer karakter. 

Tindakan dan percakapan karakter dalam serial ini benar-benar bisa dipahami: kenapa tokoh perempuan bisa ceria dan naif, gimana tokoh laki-laki yang punya karakter dingin dan tidak pandai mengungkapkan emosi, gimana tokoh laki-laki lain dan perempuan lain bisa punya motivasi yang seperti itu. Semuanya ditunjukkan secara subtle dan masuk akal.

Drama ini cenderung slow pace banget terutama bagaimana untuk momen-momen emosional. Ekspresi setiap tokoh menjadi sentral dari drama ini, terutama untuk karakter putra mahkota. Emosinya tidak digambarkan lewat seluruh raut wajah dan cenderung datar. Namun, sorot matanya menunjukkan banyak emosi yang tidak bisa dia ungkapkan. Pemilihan nuansa slow pace menurutku sangat cocok karena tokoh utama membutuhkan sorotan yang lama dan mendalam tentang emosi yang berusaha ditampilkan. Mustahil untuk merasakan itu jika pace dramanya cepat.

Cerita dimulai dari tokoh putra mahkota yang diminta untuk menikah muda oleh keluarga kerajaan. Dia sudah memiliki kekasih, tapi kekasihnya gak mau karena masih muda dan ingin menggapai cita-citanya dulu. Kecocokan dua orang ini dilihatkan dari persepsi mereka yang mirip, atas nasib. Putra mahkota merasa dibatasi dalam bercita-cita karena statusnya sebagai putra kerajaan. Dia ingin menjadi sutradara dan belajar film di Prancis tapi terhalang karena dia digariskan menjadi raja. Si kekasih itu juga punya keterbatasan finansial untuk mencapai cita-cita menjadi ballerina, meski akhirnya bapat bantuan dari gurunya. Kesamaan nasib dan kebetulan yang membuat keduanya merasa dibatasi, justru jadi saling ingin menyemangati. Namun, kekasih wanita ini gak mau menerima atribut putra mahkota itu, karena dia hanya butuh sosok teman hidup saja, bukan status. Secara kasat mata, ya memang bagus ya artinya ga memandang status, tapi karena manusia hidup di sebuah sistem sosial tertentu, atribut dari setiap orang tentu tidak bisa diabaikan dan harus diterima.

Karena kekasih tidak mau, maka putra mahkota dijodohkan dengan rakyat biasa yang sudah direncanakan oleh kakeknya. Gadis rakyat biasa itu ternyata satu sekolah juga dengannya, yang punya sifat berbanding terbalik dengan kekasih putra mahkota: ceria, pecicilan, dan tidak mau diatur. Singkat cerita, gadis itu justru tidak memandang status sebagai putra atau putri mahkota sebagai penghalang untuk mencapai cita-cita. Gadis ini membantu putra mahkota memahami perannya, dan berusaha menemukan diri mereka sendiri, tanpa mengabaikan status sosial yang tadinya dianggap membatasi. Begitu juga, setelah menjadi putri mahkota, gadis itu memang banyak melalui masa sulit, tapi dia tetap berusaha menikmati takdir karena menerima pernikahan itu pilihannya, dan bertanggung jawab terhadap pilihan adalah jalan hidupnya, sembari berusaha mencari celah antara minatnya dan nasibnya di istana.

Sifat dan karakter gadis juga ditunjukkan asalnya, yaitu dari keluarga. Punya keluarga yang secara emosi bisa hadir, menjadi kekuatan gadis ini dalam menghadapi kesulitan. Berbanding terbalik dengan putra mahkota yang sejak 5 tahun sudah harus dituntut untuk sempurna, menahan emosi, kehilangan afeksi orang tua, harus taat pada peraturan. Ketika punya kesulitan atau masalah, dia tidak ingin diikut campuri, cenderung merenung dan diam, serta berusaha menyelesaikan sendiri. Ketika ada sifat atau karakter istrinya yang tidak disukai, dia menjadi sinis, ketika cemburu menjadi marah berlebihan. Kesalahan kecil membuatnya marah, karena itulah perlakuan yang dia terima dari kedua orangtuanya yang menjadi raja dan ratu. Dia selalu dituntut untuk sempurna sehingga tidak tau bagaimana cara mengungkapkan emosi, yang berujung ditahan, dan meledak ketika waktunya tiba. Kedua orang tuanya juga tidak pernah menunjukkan afeksi satu sama lain (yang mana bapaknya juga masih terjebak dengan cinta masa lalunya), sehingga dia tidak tau bagaimana cara menunjukkan rasa sayang dengan benar.

Serial itu menunjukkan jika masalah keluarga yang belum selesai, akan banyak berpengaruh ke bagaimana anaknya menjalin hubungan ketika dia dewasa. 

Selain masalah keluarga, hal yang menarik lainnya adalah tentang self discovery baik dari putra mahkota dan istrinya. Di akhir, dengan memahami atribut yang mereka punya, mereka menjadi lebih legowo, bertanggung jawab, menerima konsekuensi tindakan, dan tau apa yang mau dilakukan. Selain itu, mencari celah dan titik tengah antara cita-cita dan nasib yang sudah digariskan, juga menjadi pesan yang cukup menarik. Jika putra mahkota menikah dengan kekasihnya, mungkin tidak akan jadi banyak pertengkaran, tapi aku yakin kalau keduanya akan menjadi berontak ketika keinginan mereka dibatasi. Karena pada dasarnya mereka tidak suka dengan istana, sulit untuk melakukan self discovery, karena atribut yang mereka miliki di istana dianggap bertentangan dengan cita-cita mereka. 

Manusia akan selalu dihadapkan pada kondisi yang tidak ideal dan berbeda. Istri putra mahkota menunjukkan kemampuan adaptif dan resilien, untuk tetap bertahan di dalam kondisi yang tidak diinginkan. Dan itu yang membuat putra mahkota lama-lama menyukainya. Di dalam sebuah scene, dia berkata bahwa bukan istrinya saja yang berusaha menyesuaikan diri, tapi istana juga berusaha menyesuaikan dengan istrinya karena dia tidak bisa diatur dan menjadi diri sendiri meski banyak peraturan. Mungkin itu juga yang menginspirasi putra mahkota tentang self discovery itu.

Selain masalah personal dan relationship, ada banyak sekali isu sosial yang disindir melalui drama ini. Misalnya ketika putri mahkota foto dengan jari V atau peace. Pose itu adalah pose standar rakyat yang ketika diminta foto informal wkwk. Di kacamata orang kaya dan elit, pose seperti itu dianggap kampungan dan murahan. Drama ini ingin menggambarkan situasi sosial itu, dan di akhir malah ibu suri istana ikut berpose kaya gitu wkwk. Itu hanya salah satu contoh sindiran drama, bahwa di masyaraka, simbol posisi tangan ketika menentukan status sosial dan layak tidaknya dia jadi kaum elit. Sungguh aneh ya kalau dipikir. Ada beberapa penggambaran kontras lain yang membenturkan kaum elit dan rakyat biasa seperti selada wrap, menunjukkan kaki yang tidak pakai sepatu itu tidak sopan, dan sebagainya. Sindiran mengenai hierarki kerajaan yang njlimet juga ada. Keluarga kerajaan cenderung konvensional, sedangkan keluarga putri mahkota cenderung menganggap anggota keluarga seperti teman dan posisinya setara, sama-sama penting. Perbedaan dan dinamika tokoh dalam menghadapi dua nilai yang berbeda itu juga yang membuat drama ini menarik dan jadi timeless.

Selain itu, ada lagi tentang bapak rumah tangga. Ayah putri mahkota memang pengangguran karena dipecat, dan pada akhirnya menikmati pekerjaan di rumah. hal itu sempat dipertanyakan oleh keluarga kerajaan. Ketika putra mahkota terkena masalah dan berandai-andai lengser dari jabatan dan nganggur, istrinya juga meyakinkan kalau jadi bapak rumah tangga tidak apa-apa, siapa tau dia malah menikmatinya.

Drama tahun 2006, 22 tahun lalu, yang ternyata cukup progresif.

Sangat banyak hal yang bisa dijabarkan setelah nonton di usia 30an haha. Kayaknya kalau pas umur 50 nonton lagi, pasti beda lagi perspektifnya. Semoga dikasih umur panjang, kelak akan nonton lagi. 

Tulisan ini jadi reminder :v


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.