Langsung ke konten utama

Sesuatu, Kuantum

Hari ini sungguh sesuatu. Menyadari salah satu kekuranganku yang paling membahana *halah.
Semua orang tahu teori bahwa ketika kita telah memilih sesuatu, kita harus menerima resikonya. Kadang aku yang mengatakan itu pada orang lain, tapi kenapa aku yang malah sering melanggar teorema itu ya.
Jadi ceritanya, aku balik ke Jakarta H+3 Lebaran alias hari sabtu, rajin banget kan. Yaitu demi masih kerja praktik di salah satu perusahaan persero. Kirain emang disuruh masuk besok senin, ternyata, hmm. Orang yang ngurusin anak magang, membebaskan, besok ga masuk juga gapapa. Hm..
Padahal sudah mengorbankan tidak ikut kumpul keluarga besar hari minggu sama hari senin. Dan lagi si kakak yang mengurusin anak magang, ngabarin nya pas aku udah nyampe pasar rebo, jadi kan balik lagi ke Depok.
Well, mungkin sekilas “Yaudah sih, gapapa, tinggal balik ke Depok ini.” Tapi entah kenapa aku belum bisa ikhlas waktu masih di Pasar Rebo."
“kenapa ngabarin nya ga kemarin kemarin siihhh. Kan bisa stay di rumah dulu kalau gitu, mana jadi boros pula naik angkotnya, ngojek dan sebagainya”.
Yah begitulah. Aku selalu mengharapkan hasil yang sempurna, sesuai harapan, dan harus ideal, kalau tidak, aku akan kecewa. Resiko sudah memutuskan untuk balik H+3 Lebaran. Kadang ketika sudah memutuskan sesuatu, harus menerima hasilnya, resikonya, dan akibatnya kan? Tidak harus sesuai yang seharusnya terjadi atau yang seharusnya didapatkan, tidak harus ideal.
Karena apa? Hidup ini sebuah sistem, semuanya telah dirancang, dan berkaitan dengan orang lain. Kadang ada kepentingan orang, kadang memang begitulah yang biasanya terjadi, kadang ada halangan dan gangguan. Tidak semuanya ideal, pid. Jadi ketika sudah melakukan yang terbaik, dan hasilnya tidak sesuai harapan, jangan kecewa, dan jangan menyalahkan orang. Allah punya sesuatu, harta karun. Dan harta karun itu tidak melulu, berupa hasil yang memuaskan, atau kepuasan fisik. Tapi bisa berupa sesuatu yang kuantum, ceilah. Mungkin harta karun itu, bisa bertemu orang, orang yang kurang beruntung dan kita mendoakannya, bertemu pengemis dan kita memberinya, naik angkot seorang supir dan kita ditakdirkan untuk menjadi penambah penghasilannya. Macam-macam. Tergantung kita mempersepsikannya saja. Dan itu, bukan berupa fisik, tapi sesuatu yang ada maknanya. Walaupun hanya doa, siapa tahu Allah mengabulkan, atau menambah rasa syukur kita.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.