Percakapan bersama teman teman, akhir akhir ini, bukan
hanya akhir akhir ini si, beberapa bulan yg lalu bahkan, tak lepas dari
bahasan topik satu ini, misteri ilahi alias jodoh.
Hal yang cukup sensitif, krusial, tapi sebenarnya sangat membuatku
bimbang dan sempat ku hindari. Tapi, tidak boleh, karena memang sudah
masanya. Haha -.-
Berbagai macam pertanyaan aneh-aneh dari teman-temanku pun muncul.
Berbagai macam pertanyaan aneh-aneh dari teman-temanku pun muncul.
Apakah pernikahan itu menentukan jodoh? Kalau cerai, ga bisa dibilang jodoh bukan? Terus untuk mendapatkan jodoh itu gimana?
Memang, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan menuju
pernikahan itu? Aku ga yakin, cinta di dalam pernikahan itu ever
lasting. Pernikahan itu butuh komitmen, untuk membesarkan
anak-anak kelak.
Coba, kenapa kita butuh untuk nikah?
Mewujudkan mimpi bersama? Bukan nya ada teman-teman yang lain, ga harus bersama suami kan. Cinta? Aku yakin yg lebih dibutuhkan dalam pernikahan itu adalah komitmen, untuk membesarkan anak-anak nanti.
Mewujudkan mimpi bersama? Bukan nya ada teman-teman yang lain, ga harus bersama suami kan. Cinta? Aku yakin yg lebih dibutuhkan dalam pernikahan itu adalah komitmen, untuk membesarkan anak-anak nanti.
Maklum ya sama obrolan early twenties. Pertanyaan nya aneh-aneh pula. Haha. Tapi memang wajar kan ya, ehehe.
Hasil diskusi pertanyaan tersebut aku rangkum sebagai berikut, ditambah sama pendapat pribadi juga sih.
Pertanyaan pertama.
Kita tidak tahu, apakah orang yang kita nikahi sudah tentu jodoh atau belum, karena bisa saja cerai. Kalau begitu pertanyaan nya, memang bisa jadi pernikahan belum menentukan jodoh. Tapi menurutku pribadi, perjuangan untuk mendapatkan jodoh justru dimulai sejak pernikahan. Bagaimana kita menerima semua masa lalu, kelebihan, kekurangan, kewarasan dan ketidakwarasan dari pasangan kita, serta mencintai mimpi, cita-cita, kesuksesan sampai kegagalan yang akan kita alami bersama pasangan kita kelak. Bagaimana agar hubungan yg sudah dijalin bisa bertahan lama, tidak hanya di dunia tapi di akhirat. Usaha penerimaan itu lah yg bisa disebut sebagai ikhtiar untuk menjadikan dia yg sudah ada di sisi kita menjadi jodoh dunia akhirat. Tentu tidak hanya penerimaan, tapi juga perbaikan diri tanpa henti, mencari ilmu dan saling memperbaiki untuk menjadi diri yg lebih baik. *ciee*
Kita tidak tahu, apakah orang yang kita nikahi sudah tentu jodoh atau belum, karena bisa saja cerai. Kalau begitu pertanyaan nya, memang bisa jadi pernikahan belum menentukan jodoh. Tapi menurutku pribadi, perjuangan untuk mendapatkan jodoh justru dimulai sejak pernikahan. Bagaimana kita menerima semua masa lalu, kelebihan, kekurangan, kewarasan dan ketidakwarasan dari pasangan kita, serta mencintai mimpi, cita-cita, kesuksesan sampai kegagalan yang akan kita alami bersama pasangan kita kelak. Bagaimana agar hubungan yg sudah dijalin bisa bertahan lama, tidak hanya di dunia tapi di akhirat. Usaha penerimaan itu lah yg bisa disebut sebagai ikhtiar untuk menjadikan dia yg sudah ada di sisi kita menjadi jodoh dunia akhirat. Tentu tidak hanya penerimaan, tapi juga perbaikan diri tanpa henti, mencari ilmu dan saling memperbaiki untuk menjadi diri yg lebih baik. *ciee*
Ada juga teman yg berpendapat bahwa ketika terjadi
perceraian, berarti kedua orang tersebut hanya berjodoh untuk
dipertemukan dalam ikatan pernikahan selama waktu tertentu. Mungkin
beberapa waktu lagi akan dipertemukan dengan jodohnya yang lain, atau
akan dipertemukan di akhirat. Definisi jodoh itu luas, kita dengan teman
SMA kita juga jodoh, yg dipertemukan ketika SMA, juga dengan teman se
kampus. Jadi jangan dikira jodoh itu seseorang yg akan terus bersama,
mungkin memang berjodoh hanya dalam kurun tertentu.
Pertanyaan kedua.
Everlasting love. Mungkin sebagian pasangan yg ada di sekitar kita, ketika usia pernikahan sudah tidak lagi muda, rasa cinta akan berkurang, dan mereka memutuskan tidak berpisah karena alasan anak-anak. Tapi ada juga yang sampai tua masih mesra. Intinya, everlasting love itu ada kok, dan bisa diusahakan bersama, asal tau ilmunya.
Everlasting love. Mungkin sebagian pasangan yg ada di sekitar kita, ketika usia pernikahan sudah tidak lagi muda, rasa cinta akan berkurang, dan mereka memutuskan tidak berpisah karena alasan anak-anak. Tapi ada juga yang sampai tua masih mesra. Intinya, everlasting love itu ada kok, dan bisa diusahakan bersama, asal tau ilmunya.
Pertanyaan ketiga.
Pertanyaan temanku yg unik ini membuat ku berpikir lama. Iya juga sih ya. Aku sempat menjawab 'mewujudkan mimpi bersama'. Lalu ditimpali, 'emang harus sama suami, kan ada teman-temanmu yg lain'.
Hm hm, that's right. Tapi, mimpi untuk mempunyai anak yang baik dan kelak bisa bermanfaat bagi orang lain, hanya bisa dilakukan dengan menikah, kan?
Dan jawaban itu, semakin memperjelas alasan pernikahan.
Ternyata bukan hanya tentang mewujudkan mimpi, tp bersama-sama mendidik anak menjadi baik, yang kelak bisa menjadi amal jariyah kita sebagai orang tua. Aku kira alasan ini sudah cukup kuat. Ya ga?
Pertanyaan temanku yg unik ini membuat ku berpikir lama. Iya juga sih ya. Aku sempat menjawab 'mewujudkan mimpi bersama'. Lalu ditimpali, 'emang harus sama suami, kan ada teman-temanmu yg lain'.
Hm hm, that's right. Tapi, mimpi untuk mempunyai anak yang baik dan kelak bisa bermanfaat bagi orang lain, hanya bisa dilakukan dengan menikah, kan?
Dan jawaban itu, semakin memperjelas alasan pernikahan.
Ternyata bukan hanya tentang mewujudkan mimpi, tp bersama-sama mendidik anak menjadi baik, yang kelak bisa menjadi amal jariyah kita sebagai orang tua. Aku kira alasan ini sudah cukup kuat. Ya ga?
Komentar
Posting Komentar