Halo
Ini adalah seri pertama dari #MarsVenusSeries yang kujanjikan beberapa waktu lalu di blog ini. Artikel ini disarikan dari buku Why Mars and Venus Collide, karangan John Gray, salah satu seri buku Mars Venus yang kupunya. Sebenarnya oh sebenarnya, buku ini ditujukan untuk pasangan suami istri, agar bisa saling memahami nature atau karakter alamiah pria-wanita. Namun, ternyata cukup aplikatif untuk kehidupan sehari-hari kepada teman atau kolega. Ya itung-itung belajar buat bekal masa depan ya. *uhuk*
Pada dasarnya wanita dan pria diciptakan berbeda, baik secara fisik maupun psikologi. Jadi sebenarnya agak tidak masuk akal kalau wanita menuntut pria untuk begini, atau pria ingin wanita begitu. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal, alangkah baiknya kita belajar hal seperti ini untuk nanti diimplementasikan di rumah tangga juga. haha :)
1. Perbedaan Secara Fisik
Sering kita lihat atau sadari, kalau pria itu lebih cenderung untuk bertindak secara logis, solutif atau bisa dibilang action oriented. Sedangkan wanita cenderung feeling oriented, memutuskan sesuatu pasti akan mempertimbangkan perasaan atau lebih ke pengungkapan perasaan. Ya kan?
Aku pernah punya pengalaman unik waktu naik bis jurusan Wonosobo Jakarta, di bis AC. Waktu itu bis sudah penuh oleh penumpang, tapi belum juga diberangkatkan. Ada ibu-ibu yang nyeletuk "Kok panas banget ya, katanya bis AC." Ibu-ibu lain juga ada yang menanggapi. Suasana nya agak gaduh, dan entah kenapa pak supir bus yang sudah duduk di singgasananya, tidak berbuat apa-apa. Tiba-tiba ada seorang bapak yang nyamperin pak supir. Sepenglihatanku, bapak itu bilang sesuatu ke pak supir, minta tolong biar AC nya dinyalain. Dan tiba-tiba wuuussssh, AC nyala! Ibu-ibu yang nyeletuk langsung diam.
Hm, keliatan kan bedanya pria wanita. Si ibu hanya mengungkapkan perasaan nya kalau dia merasa panas, sedangkan bapak itu langsung take action.
Nah, dalam kasus ini tidak ada yang perlu disalahkan, karena secara alami, itulah nature nya. Kalau ada wanita yang bisa menahan untuk tidak mengungkapkan, ya mungkin dia orang bijak atau pendiam, atau hebat.
Ternyata perbedaan itu ada sebabnya, yaitu komposisi otak yang berbeda, yaitu di salah satu bagian otak yang namanya amygdala. Amygdala berfungsi mengatur emosi. Pada wanita, syaraf pada amygdala banyak yang berhubungan dengan bagian lain di otak. Jadi ketika ada masalah, secara otomatis wanita akan menurutkan emosi atau perasaannya, lebih feeling oriented jadinya. Sedangkan amygdala pada pria, hanya sedikit syaraf yang berhubungan dengan otak. Jadi kalau ada masalah ingin nya diselesaikan segera dengan tindakan.
Karena itulah, kadang wanita harus membiarkan pria menyelesaikan masalahnya dengan cara mereka sendiri. Membiarkan pria sendiri yang meyelesaikan masalahnya atau tidak menghiraukannya, terkadang menjadi cara terbaik untuk mensupportnya. Biarkan pria bertindak.
2. Perbedaan Secara Psikologis
Perbedaan psikologis pada pria dan wanita bisa dilihat ketika menghadapi stress. Penyembuh stress pria dan wanita berbeda, karena hormon yang mempengaruhinya juga berbeda.
Stress pada wanita menyebabkan turunnya hormon kebahagiaan yaitu oksitosin. Untuk meninngkatkan hormon oksitosin,wanita perlu berada pada situasi dan lingkungan dimana dia bisa memberi perhatian pada orang lain, atau berbagi dan mengungkapkan emosi/perasaannya. Sedangkan kesuksesan dalam bekerja, pada wanita, hanya akan meningkatkan kadar testosteron yang mana tidak berpengaruh terhadap stress pada wanita.
"Women are tired today is not because they have too much to do. It's because they are not producing enough oxytocin to cope with stress."
Jadi, jika melihat wanita sedang stress, pria bisa membantu bukan dengan langsung memberi solusi, tapi dengan mendengar, memperhatikan, dan menyayangi. Karena hal itu akan meningkatkan oksitosin wanita. Wanita perlu sharing untuk hanya sekedar berbagi, men jadi lebih dekat, dan merasa lebih baik dengan cara mengungkapkan apa yang dirasakan.
Sometimes men just need to listen to women.
Stress pada pria, menyebabkan menurunnya hormon testosteron. Supaya naik lagi, pria perlu merasakan keberhasilan. Jika pria telah berusaha melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah, maka tugas wanita adalah mengapresiasi usahanya. Pun jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, sebaiknya wanita jangan menanggapnya gagal kemudian kesal. Tetap diterima dan dihargai. Apresiasi dan penerimaan adalah hal yang bisa dilakukan wanita untuk pria dalam membantunya menghadapi stress. Dengan begitu, pria akan semakin percaya diri.
Oia, wanita juga kadang mengungkapkan keinginannya dengan kalimat tidak langsung atau kode-kode. Dan ketika pria tidak menyadarinya, wanita akan ngambek di belakang layar. Nah kalau begitu, kemungkinan pria bisa merasa gagal. Jadi sebaiknya wanita bilang lah terus terang maunya apa.
Pria itu juga suka sesuatu yang bersifat project, jelas apa yang dilakukan dan kapan akan berakhir. Setelah pria melakukan sesuatu, apresiasi dan berilah respon yang baik. Respon wanita terhadap apa yang sudah dilakukan pria jauh lebih penting daripada apapun yang bisa wanita lakukan secara langsung untuk pria.
Kata buku itu, pria ingin merasa bahwa dia dibutuhkan dan diapresiasi. Kalau wanita merasa tidak membutuhkan pria, maka tingkat stress pria akan meningkat. Ya ga para pria? hehe.
"By giving less, a woman can actually be more supportive of her partner."
Jadi kesimpulan yang bisa ku tarik
Men need to feel that he is needed. Wanita sebaiknya mengapresiasi dan merasa membutuhkannya.
Women need to feel they are not alone. Pria mendengarkan dan memperhatikan.
Sebenarnya hubungan pria wanita timbal balik. Kalau semua memahami ini, mungkin tingkat perceraian bisa menurun. Hehe
Oia, ini mungkin baru sekedar teori yang disarikan dari buku, dan memang ditujukan untuk pasangan yang sudah halal tentunya. Tapi beberapa poin bisa diambil untuk kehidupan sehari-hari kok sama teman keluarga atau di organisasi, ga harus nunggu nikah dulu. Tapi bagi yang sudah menikah, menurutku ini wajib diketahui. wehehe :)
Komentar
Posting Komentar