Langsung ke konten utama

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta



Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga  dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Awalnya ngajak temen sekantor, tadinya semangat banget. Tapi setelah melihat bahwa jadwal kereta untuk pulang ke Jakartanya lagi adalah jam 4 sore, yang it means disana kita bakal cuma sekitar 2 jam, akhirnya dia ragu dan gak jadi pergi. Hm...aku awalnya juga ragu. Tapi bukankan sebuah journey itu juga merupakan destination? Aku mantap pergi sendiri. Sok berani gitu.

Berangkat dari kosan jam setengah 9, itupun sarapan dulu di warung. Sampe stasiun Jkt Kota jam 10an, deg degan dapet kereta gak ya. Ternyata dapet! Yeay! Waktuya udah mepet gitu, soalnya kereta berangkat jam 10.15 tet. Dan bener gak ngaret. Kereta nya itu kereta lokal Cikampek, beroperasi setiap hari pada jam-jam tertentu. Ternyata keretanya mirip kereta ekonomi kalau ke daerah jawa gitu. Kirain mirip kereta KRL. Harganya juga cuma 6000 rupiah cuuuuuuy :”), untuk perjalanan 3 jam ke Purwakarta. Murah kaan.

Perjalanan 3 jam tentu tak ku buang sia-sia, karena aku sadar punya banyak kerjaan hahah. Banyak buku yang harus dibaca, ada artikel yang mesti kutulis. Aku bawa dua buku, tapi yang tertarik ku baca haya 1 buku. Di kereta juga nyicil nulis artikel tapi gak selesai karena baterei tablet tinggal dikit, jadi sebisanya. Sebenernya aku lebih nyaman gini , kerja sambil di perjalanan, gak bosen.

Nah ini ni yang aku suka. Di kereta tau berbagai macam orang, made a talk with strangers, mbak-mbak asli solo yang kerja di BRI Cengkareng, bapak-bapak asli Cikampek yang PP Jkt-Cikampek, karena beliau kerja di Rawamangun, dan satu lagi bapak-bapak yang rajin banget baca koran, keknya dibaca itu semua bagian koran. Nowadays orang yang baca koran makin dikit gak sih karena everything goes online. Di kereta aku dikasih cerita tetang ramainya supporter Persib Bandung untuk Piala Presiden, serta disuruh hati-hati kalau mau pulang hari Minggu. Dan di sepanjang perjalanan juga aku ikut menyimak obrolan dua bapak itu, tentang ‘vila-vila’ di pinggiran, yang katanya kalau Ramadhan dirobohkan. Bangunannya emang semi permanen gitu sih, tapi 3 hari setelah roboh didirikan lagi. You know what I mean? Yap, tempat prostitusi. Hemm. Fakta masyarakat yang memang begitu adanya.
Aku juga ditanya mau kemana, ada temen gak. Nah, karena kalau aku jawab “Cuma mau jalan-jalan sendiri” kayaknya bakal pada kaget, dan untuk menghindari niat jahat orang-orang yang tidak ku ketahui rimbanya, aku jawab aja, “Iya mau ketemu temen.” *maap bapak2, saya bohong T.T *. Di kereta juga mendengar berbagai bunyi-bunyi music masyarakat pinggiran, dangdut koplo, dan diakhiri dengan lagu india awal tahun 2000-an yang aku idolakan sekali dulu, hahah.
Jam 1 siang sampailah di St Purwakarta, dan ternyata di sana ada kuburan kereta yang udah gak kepakai. Kereta aja ada masa habis pemakaian nya, apalagi manusia.

Ternyata Purwakarta panas meyengat gak nahan hahaha. Waktu di perjalanan kereta juga keliatan si, banyak sawah kering dan empang-empang ikan pada kering. Ya Allah berilah hujan :)

Oia, walaupun stasiun purwakarta itu kecil, tapi dekorasi halaman depan nya kece loh, ada patung-patung dan gantungan kerajinan bambu, entah tampah atau topi pak tani itu aku gak merhatiin.
Dan waktu keluar stasiun, deket dari stasiun ada semacam taman rekreasi gitu, tapi sayang gak dapet gambarnya karena cuma numpang lewat.
Destinasi yang ku tuju adalah Waduk Jatiluhur, waduk buatan terbesar di Indonesia Raya. Kalau liat di gmaps si 9 km dari stasiun. Tapi setelah aku tanya-tanya bapak ojek, katanya jauh. Dan bapak ojek menawarkan harga 60ribu kesana. Buset mahal amat. Sebenernya bisa naik angkot, tapi 3 kali. Dan gak mungkin kan dengan waktu yang mepet naik angkot. Akhirnya aku nawar haha, 60ribu bolak-balik. Boleh :”) dan bapaknya mau nungguin lagi hehe. Untuk kesana, naik ojek menghabiskan waktu setengah jam. Lama dan memang jauh. Pas masuk kawasan waduknya, di jalanan nglewatin hutan dan pepohonan gitu, adem banget.
Sampai sana, aku bingunglah mau kemana, karena luaas. Dan aku juga bohong lagi ke bapak ojeknya, mau ketemu temen. Wkwk. Padahal juga gatau ketemu siapa T.T. Oia, masuk kesana bayar kalau weekend 1 orang 10 ribu, karena aku bersama bapak ojek dan motornya jadiah aku membayar 25ribu. Fiuh.
Sampe sana langsung nyari tempat makan, dan tentu makan sendiri. Makanan khas Purwakarta adalah sate maranggi. Sate sapi dengan bumbu kacang khas sunda, gak kaya bumbu kacang jawa yang manis kecap. Sate maranggi bumbunya pedes cabe dan agak aroma rempah, enak banget lah. Dan sate itu lah menu yang paling murah di sana, yaitu 25 ribu per porsi 10 tusuk. Soalnya yang lain menunya kaya ikan gurame bakar mulai dari 50-100 rebu, gile aja makan gituan sendiri yah haha. Ibu dan teteh2 di lesehan tempat makan itu juga seperti heran aku makan sendiri wkwk.

Setelah makan, aku lanjalan ke pinggir waduk. Ternyata ada anak smp dari Jakarta yang lagi kemah pramuka, ada yang disuruh merangkak dan ada bapak-bapak yang ngomong kenceng tegas dan galak. Akhirnya ku nonton kemah anak smp, sambil menikmati semilir angin waduk dan masih panas. Ya, panas banget huahaha. Tapi pemandangan nya mayan kece lah



Selama kurang lebih 1,5 jam aku menikmati pemandangan waduk, plus liatin anak kecil maen layangan plus liat anak kemah SMP mungutin sampah. Jam 3 kurang seperempat harus segera balik lagi ke stasiun biar gak ketinggalan kereta. Mayan lah ya untuk rehat sejenak dari keriuhan kota. Pas mau pulang aku juga bohong lagi ke bapaknya, bahwa temenku ada di perkemahan itu. *maapkan hamba Ya Rabb T.T
Sampe stasiun jam 3 lebih seperempat dan langsung nanya tiket kereta lokal, ternyata baru dibuka jam setengah 4 which is 20 menit sebelum pemberangkatan. Yodah sholat dulu. Musholanya juga sederhana dan masih dalam pembangunan. Bapak-bapak penjaga mushola ramah banget.
Seneng si jalanjalan ke daerah Sunda, entah kenapa seneng aja dipanggil 'neng' atau 'teteh' dan gak ada yang manggil Ibu kaya kalau lanjalan ke mall. Wkwkwk.
Sebelum pulang aku nanya-nanya ke petugas stasiun, dari Purwakarta ke Bandung naik apa, ternyata bisa naik bis dengan harga 20-30 ribu, atau naik kereta lokal Purwakarta jam 12.55 setiap hari dari situ, dengan harga 6ribu, tapi mayan lama, 3 jam. Tapi mayan lah ya kalau mau menjelajah kota ini dulu sebelum ke Bandung. *sok mau ke Bandung padahal nanya doang*
Jam 4 kereta berangkat, dan sampe Jakarta kota jam 7malam.
Capek? Gak terlalu. Seneng? Banget!
Karena tak pernah ada yang salah dengan pergi sendiri, makan sendiri, jalan-jalan sendiri dan sendiri-sendiri lain nya. Yang penting jangan pernah punya niatan untuk hidup sendiri. Haha. Sendiri itu lebih menyenangkan, karena bebas menentukan pilihan. Tapi, berdua sepertinya lebih menarik, bukan? Hehehe.
Sebenernya pergi sendiri, bagiku pribadi, jadi melatih untuk mewujudkan apa yang kita mau, alias anti wacana kalau kita punya suatu mimpi, atau keinginan untuk diwujudkan. Walaupun orang lain 'gak jadi ikut', atau meragukan kemampuan kita, atau ada yang gak yakin dengan kita, ya kita akan tetap berusaha mewujudkan nya, entah bagaimana hasilnya. Dan dengan jalan-jalan ke lokasi baru, aku juga belajar mengelola ekspektasi. Jangan harapkan tempat yang akan kita tuju seindah yang dibayangkan dan perjalanannya enak. Jangan berandai-andai dulu, karena nanti banyak kecewa. Hindari juga yang namanya menyesal. Jalani saja, dan terima apa yang ada.
This impulsive journey also proves to me that the real destination isn't always about the destination itself, but the journey I through. Sebenarnya perjalanan lah yang menjadi tujuan. #aseek

Oke sekian. Dan sepertinya akan ada lagi kota-kota selanjutnya yang jadi destinasi buying experience-ku. Mau ikut? :)

Komentar

  1. Waah waah menarik Pid :D waduk Jatiluhur itu di Purwakarta tooh, kirain masih daerah Jakarta wkwk.
    Dulu sempet ada wacana mau jalan2 sendirian tapi hanya wacana haha, oh ya itu kata-kata yang 'asal jangan ada niat untuk hidup sendiri' perlu di-highlight Pid wkwk :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.