Setiap hari saya melewati pasar minggu untuk pergi bekerja. Kondisi jalanannya berpadu dengan toko, pusat angkutan kota (angkot, metromini, transjakarta) pasar dan stasiun, tak usah ditanya seperti apa semrawutnya. Di tengah kesemrawutan itu, kadang saya menemukan banyak hal. Seperti pengemis di stasiun, bapak-bapak yang menjual koran malam2 (padahal sekarang orang prefer membaca berita secara online), ibu-ibu yang jual sayuran dan buah di malam hari, pengamen tunanetra yang menyanyi di depan stasiun, ibu-ibu tunanetra yang berjualan kerupuk, bapak pe jual tisu di terminal yang sangat ceria dan semangat menawarkan tisu dan handuknya, dan juga bapak2 yg secara sukarela mengatur lalu lintas di pertigaan karena semrawut sekali. Hm..
Lantas saya teringat tulisan saya di masa lalu, bahwa apa yang sudah ada di dalam hidup kita itu, telah dipilihkan. Nasib manusia yang dilahirkan di keluarga mana, hidup dengan siapa, telah digariskan. Makanya ada aja ya, orang yang untuk memenuhi kebutuhan dasar saja masih harus pontang panting. Ada juga yang untuk memenuhi kebutuhan primer sekunder tersier, cukup bilang ke orang tua.
Lantas saya juga teringat dengan teman kuliah, yang keliatan santai, gak sibuk belajar, tapi nilai ujiannya lebih menjulang tinggi ke angkasa (maaf lebay) daripada orang spt saya yang sudah berusaha seperti apapun, hasil ujiannya masih terseok seok 😂. Ya mungkin karena dikasih kemampuan otak yang berbeda, atau memang anaknya sudah lebih mengerti tentang mata kuliah itu, atau bisa dibilang startnya berbeda.
Melihat itu semua, saya jadi semakin sadar kalau karunia untuk setiap manusia emang beda-beda, ujiannya juga beda-beda. Yang selalu saya ingat, gak ada yang lebih beruntung dari siapapun dan gak ada yang lebih kasihan dari siapapun. Semuanya telah 'ditakar' oleh Nya.
Dan Allah menilai usaha kita, sekeras apa, setulus apa.
Begitu juga dengan orang2 yang saya temui di pasar minggu. Walaupun hasil yang mereka dapat tak seberapa, yang Allah lihat adalah usaha mereka: bapak penjual koran yang memang sudah kemana-mana dari pagi hingga malam, bapak penjual tisu yang selalu penuh semangat menawarkan handuk dan tisu di terminal yang sehari entah laku berapa, ibu-ibu tunanetra penjual krupuk yang seharian berjualan. Bisa saja ketulusan mereka, kerja keras mereka, punya nilai lebih di mata Allah, walaupun hasilnya tak seberapa.
Dan manusia tidaklah memperoleh (pahala) kecuali apa yang telah diusahakannya .” (Qs An Najm: 39)
Kata Ust.kesayangankuh, Nouman Ali Khan, sayang banget kalau sebagai anak muda yg masih sehat walafiat bisa kemana-mana, diberi kecukupan fisik dan finansial, gak mengisi hidup dengan usaha-usaha keras dalam mencapai sesuatu, karena itu yang benar-benar akan dinilai oleh-Nya.
Duh, gak bisa gak bilang makasih ke Allah
Lantas saya teringat tulisan saya di masa lalu, bahwa apa yang sudah ada di dalam hidup kita itu, telah dipilihkan. Nasib manusia yang dilahirkan di keluarga mana, hidup dengan siapa, telah digariskan. Makanya ada aja ya, orang yang untuk memenuhi kebutuhan dasar saja masih harus pontang panting. Ada juga yang untuk memenuhi kebutuhan primer sekunder tersier, cukup bilang ke orang tua.
Dan Allah menilai usaha kita, sekeras apa, setulus apa.
Komentar
Posting Komentar