Langsung ke konten utama

Everlasting Kindness

Sejak kuliah entah semester berapa, saya gaktau awalnya gimana, tergabung di sebuah grup yang diberi julukan Grup Tulul, wkwkw. Grup yang terdiri dari sebagian teman-teman di angkatanku, Fasilkom 2010, ini awalnya adalah grup whatsapp, tapi sejak Telegram menyerang, semua anggota yg masih mau gabung (terpaksa) install Telegram. Uniknya, nama grupnya berubah-ubah sesuai dengan topik diskusi, atau bahkan nama grupnya absurd sekali wkwk. Di grup itu juga terdapat berbagai fitur, karena di Telegram bisa bikin bot atau program sendiri. Teman-teman yang rajin dg sukarela membuat beberapa bot dg berbagai fungsi, misalnya fungsi /leli buat gugling sesuatu, /kbbi buat ngecek makna suatu kata di kamus bbi, /slang untuk cari makna kata absurd, /hbd untuk ulang tahun, /kawin untuk menyelamati yg nikah dsb.


Sejak terbentuk, ada sekian ratus juta diskusi dari yang gak penting dan bikin ketawa sampai ada diskusi yang bikin manggut-manggut, ber'ohh', beristighfar atau maknyes di hati. Salah satu diskusi yang maknyes di hati adalah ketika berdiskusi tentang menjadi dosen muda di Fasilkom. Lalu ada yang share tentang ceramah ust.Nouman Ali Khan,

"you can only do so much for a limited period of time. you can go astaghfirullah astaghfirullah everyday but after you die, that's all. that's why you should find something that will last beyond your lifetime"

Saya menggarisbawahi 'you should find something that will last beyond your lifetime.'
Setelah itu jadi mikir 'apakah yang dikerjakan sekarang dan yang diimpikan di masa depan sudah diniatkan/akan last beyond my lifetime ya' 😂.

Soalnya saya sadar kadang masih ngeluhin hal gak penting, baperin hal gak penting. Kalau sudah begitu jd ngomong ke diri sendiri "katanya beyond your life time pid, masak gitu aja kesel, masak gitu aja udah nyerah, masak segitu aja usahamu?".

Saya juga jadi sadar, bahwa apapun yang sekarang kita semua lakukan dan usahakan: bekerja, kuliah, belajar di manapun, ternyata bisa berdampak ke generasi setelah kita dan generasi sebelum kita.

Siapa tahu semua usaha yang kita kerjakan sekarang, apa yang kita bangun sekarang, apa yang kita perjuangkan sekarang, bisa diwariskan ke anak cucu kita nanti. Bahkan, itu bisa jadi amal jariyah kita. Dan siapa sangka bahwa itu semua, jika kita niatkan, bisa jadi amal jariyah orang tua kita, karena menjadi anak soleh/solehah yang melakukan kebaikan, amalnya juga akan sampai ke orang tua yang sudah meninggal, insyaAllah.

Semoga apa apa yang kita lakukan bisa jadi semacam 'everlasting kindness'. Mungkin kedengaran agak overrated ya haha, tapi yang penting kita selalu mengusahakan agar bisa begitu, insyaAllah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sombong

Haha judulnya. Alhamdulillah wa syukurilah, diberi rezeki oleh Allah untuk mengeprint, membeli dan memfotokopi buku-buku ini. Yap, aku sengaja mengumpulkan sebanyak-banyak bahan untuk belajar IELTS. Entah kapan akan tercapai belajar di Eropa, di salah satu univ di Inggris yang kuidamkan. Tapi yang jelas, bukan tahun ini selain udah akhir tahun, karena ada target yang lebih penting di tahun ini. Yang penting belajar dulu lah ya.

Buying Experience : Ngebolang Sesaat di Purwakarta

Halo, aku punya cerita, tepatnya kemarin baru membuat cerita. Sabtu 17 Oktober 2015 sengaja memanfaatkan weekend untuk buying experience. Bosen di Jakarta dan sekitarnya terus, bosen juga   dengan keriuhan jalan raya kalau lagi weekend dimana semua orang ingin merayakan nya dengan pergi ke mall dan tempat makan. Pengen sesuatu yang beda. Jadilah kemarin nekat keee Purwakarta. Sendiri? Proudly yesss!

Target Semester 8 yang (hampir) akan Tercapai

So, which of the favors of your Lord would you deny? Itu mungkin, ayat Quran yang pas dengan kondisiku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku mengusahakan sesuatu, mencoba sesuatu tanpa berharap apa-apa, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, yakni memberikan sesuatu yang tidak aku inginkan. If you hope for nothing, something may happen.