Tau acara rabu(n) senja dari acara Guided Tour Andra Matin saat pameran arsitektur Prihal Andra Matin di awal Desember. Kalau waktu itu aku ga dapet kesempatan ikut acara guided tour itu ya mungkin gak akan tau haha (acaranya terbatas untuk 50 orang). Acara yang diadakan sebulan sekali setiap Rabu di minggu ketiga itu mengundang pembicara tidak hanya dari arsitektur tetapi juga praktisi desain. Kebetulan tadi malam mengundang Tulus, untuk sharing perjalanan studi arsitekturnya dan pengaruhnya terhadap karir bermusiknya sekarang.
Nekat datang ke suatu acara meski akan tau bakal sendiri selalu menjadi tantangan yang menyenangkan bagiku haha. Beberapa menit setelah poster acaranya dipublish, langsung ku daftar tanpa tau sama siapa nanti gimana soalnya limited seat cuma buat 80 orang.
Biar gak lupa, karena acara ini ngena sekali, jadi mau kutulis apa yang aku tangkap dari percakapan dengan Tulus semalam.
1. Tulus sangat jujur dengan akademisnya waktu kuliah
Dia blak-blakkan menyebut kalau IPKnya dulu rendah sekali. Dia merasa sangat tertolong dengan dosen yang memposisikan dirinya sebagai teman karena jadi tidak sungkan untuk belajar dan bertanya. Dia juga bergaul dengan berbagai macam teman, dari yang serius akademis sampai yang punya pemikiran aneh. Dengan bergaul dengan kedua macam orang tersebut, dia lebih punya sudut pandang yang luas. Dari yang berpemikiran aneh dia belajar berbagai sudut pandang tak terbatas, dari yang akademis pintar dia belajar bagaimana mengeremnya dengan logika.
2. Alasan yang membuatnya terjun ke dunia musik
Dulu waktu kuliah sempat ingin ambil jurusan seni, namun orang tua meragukan dan masih berpikiran kalau sebaiknya ambil jurusan yang menjanjikan saja seperti dokter. Setelah menimbang-nimbang akhirnya dia memilih arsitektur karena paling tidak ada unsur seninya.
Setelah lulus Tulus (senangkepku) berefleksi apa hal yang membuatnya bahagia, dan jawabannya adalah musik. Dia sempat mengajukan karyanya ke label tetapi ditolak dengan alasan suaranya tidak komersil. Untuk menghidupi diri dia juga sempat mengerjakan beberapa proyek renovasi rumah tetapi juga tetap fokus untuk membuat lagu. Penolakan itulah yang terus mendorongnya untuk memilih jalur indie dan punya rumah produksi sendiri. Dan setelah dipikir-pikir menurutnya dengan punya produksi sendiri dia akan lebih bebas dan merdeka dalam berkarya. Menjadi merdeka adalah hal yang paling membahagiakan buatnya.
Tulus mengaku sama sekali tidak bisa main alat musik apapun tetapi dia lama-lama mulai berani untuk juga memberi pendapat komponen musik apa yang bagus untuk melengkapi musik-musiknya.
3. Pengaruh studi arsitektur terhadap karirnya
Meskipun karirnya tidak ada kaitan langsung dengan arsitektur, namun arsitektur telah mengajarinya pola pikir. Pola pikir itu telah membuatnya belajar proses berpikir untuk menghasilkan sesuatu mulai dari analisis dan bagaimana agar hasilnya punya struktur dan memberi kesan. Karena tujuan arsitektur juga salah satunya adalah memberi kesan yang menyenangkan, begitu juga dengan lagu. Proses berpikir seperti itu juga membantunya dalam membuat struktur lagu.
Kuliah apapun tuh sebenarnya ya berguna asal kita menyadarinya, meskipun ga berkarir di bidang yang sama.
4. Punya cara untuk jadi diri sendiri
Ada peserta yang nanya, jika arsitek itu punya ciri khas tentang karya bangunannya, nah apa sih ciri khas musik Tulus dibanding dengan penyanyi solo yang lain. Aku kira dia akan menjawab dengan menyebutkan kelebihan dan kekhasan musik Tulus tetapi tidaak. Dia menjawab dengan sangat filosofis bahwa menjadi berbeda tidak selalu membuat kita sudah menjadi diri sendiri. Kadang tidak harus terpatok pada suatu terminologi, atau genre kalau di musik, lakukan saja yang menurut kita benar dan nyaman untuk dilakukan.
Masih banyak sih kayanya yang belum kutulis tapi lupa karena tadi malam kaya tanya jawab jadi yang dibahas agak random.
Seneng banget sih bisa terlibat dalam obrolan intim dengan Tulus meski lokasinya jauh nian di Bintaro. Ternyata orangnya kocak dan seapa-adanya itu, humble dan gak malu menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Orangnya juga ramah, menghargai setiap pemikiran dan pendapat serta kalau ngasih nasihat ga menggurui tetapi mengajak untuk berefleksi.
Berharap dan berdoa semoga rabu(n) senja selanjutnya ngundang Nicholas Saputra (yang juga lulusan arsitektur tapi jadi aktor) hahaha
Bagi yang penasaran sama rabu(n) senja, bisa dicek IGnya @rabunsenja.
Nekat datang ke suatu acara meski akan tau bakal sendiri selalu menjadi tantangan yang menyenangkan bagiku haha. Beberapa menit setelah poster acaranya dipublish, langsung ku daftar tanpa tau sama siapa nanti gimana soalnya limited seat cuma buat 80 orang.
Biar gak lupa, karena acara ini ngena sekali, jadi mau kutulis apa yang aku tangkap dari percakapan dengan Tulus semalam.
1. Tulus sangat jujur dengan akademisnya waktu kuliah
Dia blak-blakkan menyebut kalau IPKnya dulu rendah sekali. Dia merasa sangat tertolong dengan dosen yang memposisikan dirinya sebagai teman karena jadi tidak sungkan untuk belajar dan bertanya. Dia juga bergaul dengan berbagai macam teman, dari yang serius akademis sampai yang punya pemikiran aneh. Dengan bergaul dengan kedua macam orang tersebut, dia lebih punya sudut pandang yang luas. Dari yang berpemikiran aneh dia belajar berbagai sudut pandang tak terbatas, dari yang akademis pintar dia belajar bagaimana mengeremnya dengan logika.
2. Alasan yang membuatnya terjun ke dunia musik
Dulu waktu kuliah sempat ingin ambil jurusan seni, namun orang tua meragukan dan masih berpikiran kalau sebaiknya ambil jurusan yang menjanjikan saja seperti dokter. Setelah menimbang-nimbang akhirnya dia memilih arsitektur karena paling tidak ada unsur seninya.
Setelah lulus Tulus (senangkepku) berefleksi apa hal yang membuatnya bahagia, dan jawabannya adalah musik. Dia sempat mengajukan karyanya ke label tetapi ditolak dengan alasan suaranya tidak komersil. Untuk menghidupi diri dia juga sempat mengerjakan beberapa proyek renovasi rumah tetapi juga tetap fokus untuk membuat lagu. Penolakan itulah yang terus mendorongnya untuk memilih jalur indie dan punya rumah produksi sendiri. Dan setelah dipikir-pikir menurutnya dengan punya produksi sendiri dia akan lebih bebas dan merdeka dalam berkarya. Menjadi merdeka adalah hal yang paling membahagiakan buatnya.
Tulus mengaku sama sekali tidak bisa main alat musik apapun tetapi dia lama-lama mulai berani untuk juga memberi pendapat komponen musik apa yang bagus untuk melengkapi musik-musiknya.
3. Pengaruh studi arsitektur terhadap karirnya
Meskipun karirnya tidak ada kaitan langsung dengan arsitektur, namun arsitektur telah mengajarinya pola pikir. Pola pikir itu telah membuatnya belajar proses berpikir untuk menghasilkan sesuatu mulai dari analisis dan bagaimana agar hasilnya punya struktur dan memberi kesan. Karena tujuan arsitektur juga salah satunya adalah memberi kesan yang menyenangkan, begitu juga dengan lagu. Proses berpikir seperti itu juga membantunya dalam membuat struktur lagu.
Kuliah apapun tuh sebenarnya ya berguna asal kita menyadarinya, meskipun ga berkarir di bidang yang sama.
4. Punya cara untuk jadi diri sendiri
Ada peserta yang nanya, jika arsitek itu punya ciri khas tentang karya bangunannya, nah apa sih ciri khas musik Tulus dibanding dengan penyanyi solo yang lain. Aku kira dia akan menjawab dengan menyebutkan kelebihan dan kekhasan musik Tulus tetapi tidaak. Dia menjawab dengan sangat filosofis bahwa menjadi berbeda tidak selalu membuat kita sudah menjadi diri sendiri. Kadang tidak harus terpatok pada suatu terminologi, atau genre kalau di musik, lakukan saja yang menurut kita benar dan nyaman untuk dilakukan.
Masih banyak sih kayanya yang belum kutulis tapi lupa karena tadi malam kaya tanya jawab jadi yang dibahas agak random.
Seneng banget sih bisa terlibat dalam obrolan intim dengan Tulus meski lokasinya jauh nian di Bintaro. Ternyata orangnya kocak dan seapa-adanya itu, humble dan gak malu menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Orangnya juga ramah, menghargai setiap pemikiran dan pendapat serta kalau ngasih nasihat ga menggurui tetapi mengajak untuk berefleksi.
Berharap dan berdoa semoga rabu(n) senja selanjutnya ngundang Nicholas Saputra (yang juga lulusan arsitektur tapi jadi aktor) hahaha
Bagi yang penasaran sama rabu(n) senja, bisa dicek IGnya @rabunsenja.
![]() |
| Tulus yang memilih di belakang |

Komentar
Posting Komentar