Aku mau menulis tentang hal-hal apa saja yang maknanya mulai ter-reduksi akhir-akhir ini, maksudnya yang maknanya mulai dipersempit. Boleh setuju boleh enggak :)
1. Kaya
Semakin terbukanya orang-orang di social media tentang kehidupannya, tidak heran jika muncul pergesekan antara orang-orang dengan latar belakang ekonomi berbeda. Jika ada yang posting tentang liburan, makanan mahal, dan gaya hidup-gaya hidup lain yang membutuhkan banyak uang, sebagian terdorong untuk mempunyai hal yang sama, berbagi hal yang mirip dan juga seolah ingin menunjukkan kalau 'hey I am happy too'.
Apalagi sekarang sedang marak yah akun-akun yang posting tentang pentingnya investasi dan punya banyak persiapan. Emang penting sih kedua itu, tapi kadang-kadang diselipi dengan postingan yang membuat audiencenya insekyuur haha. Banyak orang jadi mendefinisikan kaya seperti yang diobrolkan oleh akun-akun itu: bisa investasi, punya aset rumah misalnya. Jadi kaya itu cuma urusan nominal kesannya.
Menurutku pribadi kaya itu pada dasarnya mudah memenuhi kebutuhan, kalau butuh sesuatu ya ada uangnya. Nah, kalau sadar kebutuhannya banyak, berarti harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu. Setiap orang beda dalam mendefinisikan kebutuhan. Kebutuhan juga dipengaruhi oleh value yang kita anut. Misalnya ada yang terbiasa merayakan ulang tahun, maka setiap momen ulang tahun pasti ada kebutuhan, ada yang tidak terbiasa jadi ya tidak ada kebutuhan. Dan perbedaan itu tidak membuat satu yang paling benar dan yang lain salah ya.
Dengan memahami definisi kaya yang seperti itu, kita bisa jeli melihat suatu keinginan apakah hanya karena melihat orang lain atau benar-benar kita butuhkan, jadi lebih paham dengan kebutuhan diri sendiri dan keluarga yang sebenar-benarnya.
2. Sukses
Nah ini juga yang sering menjadi bahan di social media sehingga merembet kemana-mana sampai pada bahas masalah privilege. Bisa jadi karena makna 'kaya' yang direduksi kaya opiniku di atas, jadinya sukses juga definisinya berubah, misalnya jadi kaya dan banyak duit, bersekolah di sekolah favorit, kerja di perusahaan elit dengan gaji dua/tiga digit (yeah ber-rima) dan lain sebagainya.
Padahal setiap orang punya rejeki dan definisi suksesnya masing-masing. Bisa jadi ada orang yang dekat dengan keluarga dan hidup berkecukupan sudah merasa sukses, atau ada yang suka banget belajar sehingga ya sukses menurutnya adalah bisa melanjutkan sampai S3. Jadi mari tidak usah mendikte orang lain untuk punya value yang sama dengan kita sehingga mereka bisa jadi malah merasa insecure alih-alih termotivasi.
Oia aku juga pernah baca sebuah tesis yang meneliti definisi sukses di daerah gunung Tengger di Jawa Timur. Mayoritas penduduk di sana adalah petani dan ketika peneliti mewawancara anak-anak di sana, mereka beranggapan jika sukses adalah bisa dekat dengan keluarga dan bisa meneruskan usaha pertanian di sana.
3. Ibadah
Marak dengan fenomena hijrah, banyak yang tidak suka tapi juga banyak yang mendukung-dukung saja. Sebenarnya ya sah-sah saja karena hidup orang kadang tidak perlu kita urus hahah. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika yang ditonjolkan dalam hijrah adalah hanya atribut-atribut seperti panjangnya jilbab, pake enggaknya jilbab, pakaian yang dikenakan, sering gaknya ikut kajian, jumlah hafalan atau bacaan per hari. Sebenarnya tidak ada yang salah, yang salah jika menganggap hal-hal seperti itu jadi standar keislaman seseorang dan merasa lebih baik dari orang lain sehingga berhak untuk menasihati atau menyampaikan pesan baik tanpa tau konteks lawan bicara apalagi berani menghakimi. Ibadah juga tidak hanya terletak pada yang kelihatan saja, Sejak dulu aku agak gemas sebenarnya kalau masyarakat yang mengaku islami hanya fokus di ibadah rutin dan mengaji saja tetapi tidak berusaha memberikan manfaat dengan ilmunya untuk kebaikan orang lain, sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memahami ada orang yang berbeda latar belakangnya, orang yang membutuhkan bantuan, atau tidak peduli dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di luar sana. Ada banyak sekali nilai ibadah di hal-hal seperti itu, yang ijka ditekuni bisa jadi amal jariyah.
Ya gak salah sih cuma ngurusin ibadah individu karena pilihan hidup orang berbeda-beda, tetapi kalau dengan ibadah individu ada yang jadi seenaknya menganggap orang lain yang ibadahnya keliatan ga lebih baik dan dirinya jadinya merasa lebih baik malah terjerumus jadi sombong.
1. Kaya
Semakin terbukanya orang-orang di social media tentang kehidupannya, tidak heran jika muncul pergesekan antara orang-orang dengan latar belakang ekonomi berbeda. Jika ada yang posting tentang liburan, makanan mahal, dan gaya hidup-gaya hidup lain yang membutuhkan banyak uang, sebagian terdorong untuk mempunyai hal yang sama, berbagi hal yang mirip dan juga seolah ingin menunjukkan kalau 'hey I am happy too'.
Apalagi sekarang sedang marak yah akun-akun yang posting tentang pentingnya investasi dan punya banyak persiapan. Emang penting sih kedua itu, tapi kadang-kadang diselipi dengan postingan yang membuat audiencenya insekyuur haha. Banyak orang jadi mendefinisikan kaya seperti yang diobrolkan oleh akun-akun itu: bisa investasi, punya aset rumah misalnya. Jadi kaya itu cuma urusan nominal kesannya.
Menurutku pribadi kaya itu pada dasarnya mudah memenuhi kebutuhan, kalau butuh sesuatu ya ada uangnya. Nah, kalau sadar kebutuhannya banyak, berarti harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu. Setiap orang beda dalam mendefinisikan kebutuhan. Kebutuhan juga dipengaruhi oleh value yang kita anut. Misalnya ada yang terbiasa merayakan ulang tahun, maka setiap momen ulang tahun pasti ada kebutuhan, ada yang tidak terbiasa jadi ya tidak ada kebutuhan. Dan perbedaan itu tidak membuat satu yang paling benar dan yang lain salah ya.
Dengan memahami definisi kaya yang seperti itu, kita bisa jeli melihat suatu keinginan apakah hanya karena melihat orang lain atau benar-benar kita butuhkan, jadi lebih paham dengan kebutuhan diri sendiri dan keluarga yang sebenar-benarnya.
2. Sukses
Nah ini juga yang sering menjadi bahan di social media sehingga merembet kemana-mana sampai pada bahas masalah privilege. Bisa jadi karena makna 'kaya' yang direduksi kaya opiniku di atas, jadinya sukses juga definisinya berubah, misalnya jadi kaya dan banyak duit, bersekolah di sekolah favorit, kerja di perusahaan elit dengan gaji dua/tiga digit (yeah ber-rima) dan lain sebagainya.
Padahal setiap orang punya rejeki dan definisi suksesnya masing-masing. Bisa jadi ada orang yang dekat dengan keluarga dan hidup berkecukupan sudah merasa sukses, atau ada yang suka banget belajar sehingga ya sukses menurutnya adalah bisa melanjutkan sampai S3. Jadi mari tidak usah mendikte orang lain untuk punya value yang sama dengan kita sehingga mereka bisa jadi malah merasa insecure alih-alih termotivasi.
Oia aku juga pernah baca sebuah tesis yang meneliti definisi sukses di daerah gunung Tengger di Jawa Timur. Mayoritas penduduk di sana adalah petani dan ketika peneliti mewawancara anak-anak di sana, mereka beranggapan jika sukses adalah bisa dekat dengan keluarga dan bisa meneruskan usaha pertanian di sana.
3. Ibadah
Marak dengan fenomena hijrah, banyak yang tidak suka tapi juga banyak yang mendukung-dukung saja. Sebenarnya ya sah-sah saja karena hidup orang kadang tidak perlu kita urus hahah. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika yang ditonjolkan dalam hijrah adalah hanya atribut-atribut seperti panjangnya jilbab, pake enggaknya jilbab, pakaian yang dikenakan, sering gaknya ikut kajian, jumlah hafalan atau bacaan per hari. Sebenarnya tidak ada yang salah, yang salah jika menganggap hal-hal seperti itu jadi standar keislaman seseorang dan merasa lebih baik dari orang lain sehingga berhak untuk menasihati atau menyampaikan pesan baik tanpa tau konteks lawan bicara apalagi berani menghakimi. Ibadah juga tidak hanya terletak pada yang kelihatan saja, Sejak dulu aku agak gemas sebenarnya kalau masyarakat yang mengaku islami hanya fokus di ibadah rutin dan mengaji saja tetapi tidak berusaha memberikan manfaat dengan ilmunya untuk kebaikan orang lain, sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memahami ada orang yang berbeda latar belakangnya, orang yang membutuhkan bantuan, atau tidak peduli dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di luar sana. Ada banyak sekali nilai ibadah di hal-hal seperti itu, yang ijka ditekuni bisa jadi amal jariyah.
Ya gak salah sih cuma ngurusin ibadah individu karena pilihan hidup orang berbeda-beda, tetapi kalau dengan ibadah individu ada yang jadi seenaknya menganggap orang lain yang ibadahnya keliatan ga lebih baik dan dirinya jadinya merasa lebih baik malah terjerumus jadi sombong.
Komentar
Posting Komentar